Selasa, 20 Januari 2009

The "Ritual"

Pulpen sudah digenggam, lembaran kertas sudah terbuka dihadapan. Ingin menulis sesuatu. Tapi otakku tidak mai bekerja. Penat dan lelah rasanya jika dipaksakan untuk berpikir. Ayolah teman, ayo berpikir… ayo tulis sesuatu…apapun yang ada dipikiranmu…tulis saja. Akkkkk… tetap saja bingung.
Detik demi detik berlalu begitu saja. Kertas tetap kosong. Pulpan tetap tergenggam dengan malas. Tidak mau bekerja sama untuk membentuk suatu tuilisan. Kuambil sebatang rokok kretek dan menyulutnya; menghisapnya; menahan sejenak; menghembuskan asap-asap beracunnya. Menghisapnya lagi demi menjaga bara agar tetap menyala, menahannya untuk beberapa saat seraya membiarkan racun-racun berbahaya itu memenuhi paru-paru ku. Memang nikmat…
Sekali lagi, aku telah menyia-nyiakan paru-paruku ini. Demi kesenangan sesaat; demi pembenaran diri dalam rangka meraih inspirasi. Tapi apa kenyataannya? Semua melayang. Pikiranku melayang menemani asap-asap yang membumbung ke sudut ruangan. Semangatku tenggelam bersama asap-asap yang menyusupi paru-paruku. Aku yakin, paru-paruku akan semakin memburuk. Batuk ini, pusing ini, sakit ini, keras kepala ini, kemanjaan ini, semakin mudarat; kapankah akan ku akhiri?
Sepotong demi sepotong, kotoranku mulai memenuhi kolam air kecil yang terlingkupi oleh jamban porselen yang ku duduki. At least… setidaknya aku sedikit lega dari ritual ini. Perutku menjadi lebih kosong. Ritual tanpa arti, melepas diri dari kotoran kehidupan, dengan harapan akan bersamaan dengan lahirnya sebuah inspirasi.


Senin, 19 Januari 2009

Surat Sahabat

Sahabat,
Aku dan kamu sudah dekat sejak lahir. Hanya saja, pada waktu itu kamu belum terlalu mengenalku. Kamu mengenali aku setelah kita berusia kurang lebih 3 tahun. Semakin lama kamu semakin menyadari bahwa aku akan selalu ada bersamamu, mendampingimu dan membantumu.
Walau ukuran tubuh kita berbeda, tapi boleh dibilang kita ini sama. Gemuk dan Montok. Dirimu memang selalu lebih besar dariku. Tapi aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Memang begini adanya.
Jika dibandingkan denganmu, aku lebih dulu memasuki era kedewasaan. Untuk golonganku, usia jika memasuki kedewasaan adalah dengan memberanikan diri menunjukkan muka kita ke dunia luar. Mungkin terdengar sepele, tapi bagiku itu adalah tahapan yang sangat menyakitkan. Aku masih ingat, usia kita pada saat itu 10 tahun. Dengan cara tertentu dan memang menyakitkan, aku akhirnya bisa. Dengan wajah kemerahan dan leher penuh luka aku menatap dunia Mungkin kamu mengetahuinya dan tak tega, sehingga turut menangis. Terimakasih sahabat, atas empatimu.
Usia remaja, kita semakin dekat dan kompak. Tubuhmu bertambah tinggi dan membesar, begitu juga aku. Di saat wajahmu mulai ditumbuhi kumis, janggut, ambang serta bersuara berat, aku pun begitu. Hanya saja aku diciptakan untuk tidak mempunyai suara. Jadi kamu memang tidak akan pernah mendengar suaramu. Setiap pagi aku selalu membangunkanmu, untuk segera mandi pagi dan tidak terlambat ke sekolah. Karena aku sangat memahamimu, aku bisa ikut senang disaat dirimu senang dan aku pun ciut disaat dirimu merasa takut. Di masa ini terkadang dirimu terlalu asyik dengan duniamu. Aku sedikit terlupakan. Aku maklum. Lagipula, jika kamu terlalu sering bermain-main denganku tidak baik untukmu.
Usia dewasa, adalah masa yang sedikit aneh bagiku. Dulu, kamu sangat menutup-nutupi keberadaan diriku; khususnya teman wanitamu. Saat ini dirimu menjadi lebih terbuka. Sesekali waktu, kamu memperkenalkan aku ke teman-temanmu. Aku heran. Mengapa hanya teman wanitamu? Mereka terkadang sampai gemas melihatku. Dipeluk, dicium, dicubit, bahkan digigit. Tapi aku tidak ambil pusing. Selama dirimu senang, aku pun senang. Teman-temanmu juga memiliku pendamping sepertiku. Kalian saling memperkenalkan pendamping, dan membolehkan kami untuk bermain bersama. Menyenangkan. Walaupun ada pendamping yang sepertinya ditelantarkan oleh temanmu, sehingga kami hanya bermain sebatas sopan santun saja. Bahkan, jika dirimu tidak nyaman dengan temanmu, akupun begitu. Diam saja tanpa ekspresi. Tidak lebih tidak kurang.
Sahabat, berbagai hal sudah kita lalui bersama. Susah senang selalu bersama. Sekarang kita sudah sama-sama dewasa. Dirimu sudah menjadi orang kantoran yang punya jadwal rutin. Waktu bermain denganku sudah tidak banyak lagi. Waktu senggangmu kamu habiskan bersama pasanganmu. Begitu juga aku, dengan pendampingnya. Bagaimanapun, tugasku hanyalah seperti ini…menjadi pendampingmu selamanya.

Regards,

Penismu.