Pulpen sudah digenggam, lembaran kertas sudah terbuka dihadapan. Ingin menulis sesuatu. Tapi otakku tidak mai bekerja. Penat dan lelah rasanya jika dipaksakan untuk berpikir. Ayolah teman, ayo berpikir… ayo tulis sesuatu…apapun yang ada dipikiranmu…tulis saja. Akkkkk… tetap saja bingung.
Detik demi detik berlalu begitu saja. Kertas tetap kosong. Pulpan tetap tergenggam dengan malas. Tidak mau bekerja sama untuk membentuk suatu tuilisan. Kuambil sebatang rokok kretek dan menyulutnya; menghisapnya; menahan sejenak; menghembuskan asap-asap beracunnya. Menghisapnya lagi demi menjaga bara agar tetap menyala, menahannya untuk beberapa saat seraya membiarkan racun-racun berbahaya itu memenuhi paru-paru ku. Memang nikmat…
Sekali lagi, aku telah menyia-nyiakan paru-paruku ini. Demi kesenangan sesaat; demi pembenaran diri dalam rangka meraih inspirasi. Tapi apa kenyataannya? Semua melayang. Pikiranku melayang menemani asap-asap yang membumbung ke sudut ruangan. Semangatku tenggelam bersama asap-asap yang menyusupi paru-paruku. Aku yakin, paru-paruku akan semakin memburuk. Batuk ini, pusing ini, sakit ini, keras kepala ini, kemanjaan ini, semakin mudarat; kapankah akan ku akhiri?
Sepotong demi sepotong, kotoranku mulai memenuhi kolam air kecil yang terlingkupi oleh jamban porselen yang ku duduki. At least… setidaknya aku sedikit lega dari ritual ini. Perutku menjadi lebih kosong. Ritual tanpa arti, melepas diri dari kotoran kehidupan, dengan harapan akan bersamaan dengan lahirnya sebuah inspirasi.
Detik demi detik berlalu begitu saja. Kertas tetap kosong. Pulpan tetap tergenggam dengan malas. Tidak mau bekerja sama untuk membentuk suatu tuilisan. Kuambil sebatang rokok kretek dan menyulutnya; menghisapnya; menahan sejenak; menghembuskan asap-asap beracunnya. Menghisapnya lagi demi menjaga bara agar tetap menyala, menahannya untuk beberapa saat seraya membiarkan racun-racun berbahaya itu memenuhi paru-paru ku. Memang nikmat…
Sekali lagi, aku telah menyia-nyiakan paru-paruku ini. Demi kesenangan sesaat; demi pembenaran diri dalam rangka meraih inspirasi. Tapi apa kenyataannya? Semua melayang. Pikiranku melayang menemani asap-asap yang membumbung ke sudut ruangan. Semangatku tenggelam bersama asap-asap yang menyusupi paru-paruku. Aku yakin, paru-paruku akan semakin memburuk. Batuk ini, pusing ini, sakit ini, keras kepala ini, kemanjaan ini, semakin mudarat; kapankah akan ku akhiri?
Sepotong demi sepotong, kotoranku mulai memenuhi kolam air kecil yang terlingkupi oleh jamban porselen yang ku duduki. At least… setidaknya aku sedikit lega dari ritual ini. Perutku menjadi lebih kosong. Ritual tanpa arti, melepas diri dari kotoran kehidupan, dengan harapan akan bersamaan dengan lahirnya sebuah inspirasi.