Dia menyukai nama ini. Nefertari, yang dalam bahasa Mesir artinya adalah Ratu. Yup, seorang Ratu. Dia sekarang akhirnya menjadi seorang Ratu di keluarganya. Walaupun bukan Ratu untukku, karena akupun bukanlah Rajanya. Kami tahu, bahwa kami tidak akan pernah bisa bersatu. Keyakinan berbeda dan perasaan yang tulus membuat kami memutuskan untuk tidak saling memiliki. Kami takut, rasa posesif itu akan menimbulkan rasa egois dan memberikan keberanian untuk menyakiti orang yang kami sayangi. Perasaanku padanya memang aneh. Diamku disaat curhatnya. Suaraku disaat tangisnya. Genggaman tangganku saat mengiringi jalan meloncat dan lari-lari kecilnya. Aku juga tidak mengengerti. Yang kurasakan jika bertemu dengannya adalah rasa ingin menghilangkan sedihnya, meredakan sakitnya, menceriakan bahagianya, dan segera pamit darinya disaat rasa memiliki itu timbul. Aku yakin. Bukan kata-kata dari bibirku yang ingin dia dengar. Bukan surat cintaku yang ingin dia baca. Dia hanya ingin aku berada disisinya. Kapanpun itu. Yang dia nantikan adalah keberanianku untuk menjemputnya, merengkuhnya, dan menyentakkan tangannya dari kekasihnya. Yang dia rindukan adalah aku berbalik dan menyediakan badanku dipeluk dari belakang untuk tempat mencurahkan segala kekesalannya. Yang kami mimpikan adalah satu selimut putih bersama. Tapi Nefertari selalu tahu, aku tidak akan melakukan itu. Kami berdua hanya ingin saling memberi. Kami berdua tidak pernah meminta. Kami berdua selalu tahu apa yang kami butuhkan satu sama lain. Kami berdua tahu dimana batasan itu, dan kami berdua pun tahu dimana hati ini berada.
Benar kata Slank, terlalu manis…
terlalu manis, untuk dilupakan
kenangan yang indah, bersamamu,
tinggallah mimpi….
terlalu manis, untuk dilupakan
kenangan yang indah, bersamamu,
tinggallah mimpi….

duuh nilainya kok gak ada pilihan bagusnya sih. hehehe. btw, nice blog! :)
BalasHapusthanks a lot Merriska...
BalasHapus