Kamis, 08 Januari 2009

Majnun Tamat Riwayat (Layla Majnun 3-selesai)

Perasaan seseorang memang tidak bisa dipaksakan. Semua itu memang harus muncul dari dalam hati, tidak akan pernah bisa dibungkus oleh lembaran kepura-puraan. Hal inilah yang diajarkan oleh Layla padaku. Dia pernah menyukai dan berusaha membalas perasaanku padanya, tapi tidak pernah benar-benar bisa sampai sepenuhnya.
Pada beberapa bulan sebelum pernikahannya, kami pernah berbincang-bincang mengenai hal ini. Yang uniknya, kami membicarakannya lebih lepas. Karena diantara kami pun sudah saling menemukan perasaan kami masing-masing. Menurutnya, dia hanya pernah jatuh cinta 2 kali. Yang pertama adalah saat SMA kelas 1 dan yang kedua adalah dengan calon suaminya yang sekarang. Dari situ aku sudah langsung terkonfirmasi dimana saja aku pada saat itu. Hehehehhe…
Dua tahun dia “kosong” tidak menerima siapapun (termasuk diriku), untuk menunggu cinta pertamanya yang tidak kunjung menyusul. Sampai akhirnya Cinta keduanya hadir, memberikan semua yang dia butuhkan, baik kasih maupun restu dari dunia dengan caranya yang berbeda dan tulus. Aku jadi mengerti. Aku hadir di saat penantiannya, disaat kekosongannya, tapi bukan kekosongan hatinya. Aku hanya sebagai “teman-aneh”, die-hard fans nya, yang mencoba membayar semua kesalahan yang pernah aku lakukan dulu. Menjadi pria pertama yang menciumnya, dan sekaligus dimusuhi abangnya. Aku memang jahat. Saat itu, aku hanya main-main saja, tanpa hati, tanpa memikirkan akibat apa yang aku lakukan. Dan memang benar. Dia “dendam” padaku karena aku telah mempermainkan dirinya. Pembalasannya sukses besar. Telah dia lakukan padaku di lempuyangan lalu. Aku cuma ketawa sendiri mendengar apa yang dia sampaikan. Dan aku juga mengakui, sejauh apapun aku berusaha, aku tidak akan bisa menggantikan apa yang dia rasakan. Karena perasaanku yang sebenarnya pun hanya ingin membayar kesalahan. Aku tidak tulus padanya. Aku telah membohongi diriku dan dirinya.
Sejak elegy lempuyangan, perjuangan ku ke Layla menjadi semakin pahit. Tidak ada email, tidak ada kabar, apalagi jalan bareng. Dia selalu menjauhi aku. Tanpa alasan yang jelas selama berbulan-bulan, hingga aku mendengar dia jadian dengan teman SMA yang kuliah di Solo. Aku tidak akan makan teman. Dan aku mundur perlahan.
Dan disinilah kami sekarang. Berdiri di jalan masing-masing. Dengan kenangan dan berbagai kebodohan yang telah terjadi. Ciuman, pukulan, surat, hadiah, pengintaian, pengejaran, kencan, jalan-jalan bareng, dan semua kegiatan bersama yang aku lakukan, tidak didasari oleh ketulusan. Begitu juga dirinya, juga pernah berusaha untuk benar-benar menerima perasaanku. Tapi ternyata diapun tidak bisa membohongi diri. Hubungan kami memang pernah manis, tapi sayang, tidak dengan sepenuh hati. Dia bilang hal ini pernah indah. Perasaan itu juga pernah menggigit. Tapi apalah artinya jika hati kita berkata, “dia bukan orangnya”?
Layla dan Majnun. Sungguh berbeda apa yang aku versikan. Layla tetap indah seperti cerita aslinya. Sedangkan aku menjadi Majnun bukan karena perasaanku padanya. Tapi betapa “majnun”nya diriku yang melakukan semua itu tanpa ketulusan hati. Bukan cinta sebenarnya. Walaupun perih, disaat dulu melihatnya menerima yang lain. Tapi yang aku rasakan bukan karena cintaku yang tak berbalas, tapi perih karena “bukan aku pemenangnya”. Saat itu diriku sedang menjalani proses untuk dewasa… Jika diri masih kekanak-kanakan, sungguh egois ya…
Terimakasih Layla. Darimu, aku pernah mendapatkan motivasi, kreativitas, menikmati lukisan, “how to dating a women”, dan bagaimana bisa menyikapi wanita dengan cara yang lebih baik, walau semua itu didasari oleh perasaan yang salah. Salah tapi indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar