Tampilkan postingan dengan label Romansa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Romansa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Januari 2009

Majnun Tamat Riwayat (Layla Majnun 3-selesai)

Perasaan seseorang memang tidak bisa dipaksakan. Semua itu memang harus muncul dari dalam hati, tidak akan pernah bisa dibungkus oleh lembaran kepura-puraan. Hal inilah yang diajarkan oleh Layla padaku. Dia pernah menyukai dan berusaha membalas perasaanku padanya, tapi tidak pernah benar-benar bisa sampai sepenuhnya.
Pada beberapa bulan sebelum pernikahannya, kami pernah berbincang-bincang mengenai hal ini. Yang uniknya, kami membicarakannya lebih lepas. Karena diantara kami pun sudah saling menemukan perasaan kami masing-masing. Menurutnya, dia hanya pernah jatuh cinta 2 kali. Yang pertama adalah saat SMA kelas 1 dan yang kedua adalah dengan calon suaminya yang sekarang. Dari situ aku sudah langsung terkonfirmasi dimana saja aku pada saat itu. Hehehehhe…
Dua tahun dia “kosong” tidak menerima siapapun (termasuk diriku), untuk menunggu cinta pertamanya yang tidak kunjung menyusul. Sampai akhirnya Cinta keduanya hadir, memberikan semua yang dia butuhkan, baik kasih maupun restu dari dunia dengan caranya yang berbeda dan tulus. Aku jadi mengerti. Aku hadir di saat penantiannya, disaat kekosongannya, tapi bukan kekosongan hatinya. Aku hanya sebagai “teman-aneh”, die-hard fans nya, yang mencoba membayar semua kesalahan yang pernah aku lakukan dulu. Menjadi pria pertama yang menciumnya, dan sekaligus dimusuhi abangnya. Aku memang jahat. Saat itu, aku hanya main-main saja, tanpa hati, tanpa memikirkan akibat apa yang aku lakukan. Dan memang benar. Dia “dendam” padaku karena aku telah mempermainkan dirinya. Pembalasannya sukses besar. Telah dia lakukan padaku di lempuyangan lalu. Aku cuma ketawa sendiri mendengar apa yang dia sampaikan. Dan aku juga mengakui, sejauh apapun aku berusaha, aku tidak akan bisa menggantikan apa yang dia rasakan. Karena perasaanku yang sebenarnya pun hanya ingin membayar kesalahan. Aku tidak tulus padanya. Aku telah membohongi diriku dan dirinya.
Sejak elegy lempuyangan, perjuangan ku ke Layla menjadi semakin pahit. Tidak ada email, tidak ada kabar, apalagi jalan bareng. Dia selalu menjauhi aku. Tanpa alasan yang jelas selama berbulan-bulan, hingga aku mendengar dia jadian dengan teman SMA yang kuliah di Solo. Aku tidak akan makan teman. Dan aku mundur perlahan.
Dan disinilah kami sekarang. Berdiri di jalan masing-masing. Dengan kenangan dan berbagai kebodohan yang telah terjadi. Ciuman, pukulan, surat, hadiah, pengintaian, pengejaran, kencan, jalan-jalan bareng, dan semua kegiatan bersama yang aku lakukan, tidak didasari oleh ketulusan. Begitu juga dirinya, juga pernah berusaha untuk benar-benar menerima perasaanku. Tapi ternyata diapun tidak bisa membohongi diri. Hubungan kami memang pernah manis, tapi sayang, tidak dengan sepenuh hati. Dia bilang hal ini pernah indah. Perasaan itu juga pernah menggigit. Tapi apalah artinya jika hati kita berkata, “dia bukan orangnya”?
Layla dan Majnun. Sungguh berbeda apa yang aku versikan. Layla tetap indah seperti cerita aslinya. Sedangkan aku menjadi Majnun bukan karena perasaanku padanya. Tapi betapa “majnun”nya diriku yang melakukan semua itu tanpa ketulusan hati. Bukan cinta sebenarnya. Walaupun perih, disaat dulu melihatnya menerima yang lain. Tapi yang aku rasakan bukan karena cintaku yang tak berbalas, tapi perih karena “bukan aku pemenangnya”. Saat itu diriku sedang menjalani proses untuk dewasa… Jika diri masih kekanak-kanakan, sungguh egois ya…
Terimakasih Layla. Darimu, aku pernah mendapatkan motivasi, kreativitas, menikmati lukisan, “how to dating a women”, dan bagaimana bisa menyikapi wanita dengan cara yang lebih baik, walau semua itu didasari oleh perasaan yang salah. Salah tapi indah.

Selasa, 06 Januari 2009

Nefertari

Dia menyukai nama ini. Nefertari, yang dalam bahasa Mesir artinya adalah Ratu. Yup, seorang Ratu. Dia sekarang akhirnya menjadi seorang Ratu di keluarganya. Walaupun bukan Ratu untukku, karena akupun bukanlah Rajanya. Kami tahu, bahwa kami tidak akan pernah bisa bersatu. Keyakinan berbeda dan perasaan yang tulus membuat kami memutuskan untuk tidak saling memiliki. Kami takut, rasa posesif itu akan menimbulkan rasa egois dan memberikan keberanian untuk menyakiti orang yang kami sayangi. Perasaanku padanya memang aneh. Diamku disaat curhatnya. Suaraku disaat tangisnya. Genggaman tangganku saat mengiringi jalan meloncat dan lari-lari kecilnya. Aku juga tidak mengengerti. Yang kurasakan jika bertemu dengannya adalah rasa ingin menghilangkan sedihnya, meredakan sakitnya, menceriakan bahagianya, dan segera pamit darinya disaat rasa memiliki itu timbul. Aku yakin. Bukan kata-kata dari bibirku yang ingin dia dengar. Bukan surat cintaku yang ingin dia baca. Dia hanya ingin aku berada disisinya. Kapanpun itu. Yang dia nantikan adalah keberanianku untuk menjemputnya, merengkuhnya, dan menyentakkan tangannya dari kekasihnya. Yang dia rindukan adalah aku berbalik dan menyediakan badanku dipeluk dari belakang untuk tempat mencurahkan segala kekesalannya. Yang kami mimpikan adalah satu selimut putih bersama. Tapi Nefertari selalu tahu, aku tidak akan melakukan itu. Kami berdua hanya ingin saling memberi. Kami berdua tidak pernah meminta. Kami berdua selalu tahu apa yang kami butuhkan satu sama lain. Kami berdua tahu dimana batasan itu, dan kami berdua pun tahu dimana hati ini berada.


Benar kata Slank, terlalu manis…

terlalu manis, untuk dilupakan
kenangan yang indah, bersamamu,
tinggallah mimpi….

Selasa, 23 Desember 2008

Elegi Lempuyangan (Layla & Majnun 2)


“Hadimin……….!!!! Buruan woiii….!!!! Kaya cewek mandinya?” teriakku kesal didepan pintu.

Dua tahun yang lalu aku datang ke kota ini untuk menyelesaikan kuliahku. Layla lebih dulu datang ke sini. Dia sudah menentukan kuliahnya sebelum aku. Aku hanya mengandalkan hasil UMPTN. Tidak ada cadangan lain. Hanya kota ini. Jogjakarta, kota berkumpulnya para pelajar dari seluruh pelosok negeri ini.

Aku masih ingat, kami sempat berkirim surat sebelum kedatanganku ke kota ini. Sehari setelah kelulusan SMA, aku main ke rumahnya. Membawakan tempat pensil yang aku buat sendiri. Aku buat saat selesai ujian akhir, untuk mengisi waktu. Aku menanyakan apakah dia menyukai bersurat? Ternyata dia sangat suka berkorespondensi, hanya saja belum ada yang harus dia kirimi surat.
“Kamu bisa bersurat-suratan denganku” tawarku.
“Sungguh?” sahutnya.
“Ya… Kalau sudah dapat kos, kabari aku ya”
Pada saat itu, teknologi telpon selular masih sangat mahal. Internet pun jarang.
Aku tidak tahu persis apa yang sedang ada dianganku saat itu. Yang aku tahu, aku berusaha untuk meminta maaf atas kenakalan-kenakalan dan keisenganku dulu, yang pasti telah menggores hatinya. Yang aku inginkan pada saat itu adalah tatapan mata yang sudah memaafkan aku, yang belum aku dapatkan sampai saat ini.

Suratnya datang. Dia menceritakan suasana kota Jogja, kegiatan bimbingan belajarnya, lingkungan kos-kosannya, dan dorongan semangat buatku untuk ke sana.
“Aku akan ke kota tempat dirimu berada” Tekadku dalam hati.
Dia mendaftar di kota Jogja dan Malang. Begitu juga aku. Dia mendaftar universitas swasta terkenal di jogja. Aku tidak. Perekonomian keluargaku terbatas. Hanya UMPTN, ya, itu saja.

Aku diterima di PTN di Jogja, dia di PTS. Saat aku sampai di Jogja, dia sudah pindah, dan belum sempat mengabari. Semester pertama, aku disibukkan dengan persiapan dan adaptasi dunia perkuliahan. Terlena disuasana dan teman baru, lingkungan baru, kabar darinya semakin lama hilang begitu saja. Teman-temanku juga tidak tahu dia persisnya ada di mana. Hanya ada kabar tidak jelas dia di daerah sini, pernah liat di situ, dan berbagai informasi yang memusingkan lainnya. Walau pelan, aku masih terus mencarinya.

Sampai hari pada suatu siang, Pungky, temen kos ku, mengatakan pernah melihat Layla di dekat jalan Gejayan. Melintas menyeberangi jalan, masuk tempat kursus komputer. Kuminta Pungky untuk mengantarkanku ke sana. Dan setelah ku bertanya, basa-basi untuk mencari tahu. Satu jam lagi peserta kursus akan keluar. Aku dan Pungky menunggu di dekat tukang gorengan. Satu jam kemudian, kulihat Layla dan satu orang temannya menuju parkiran motor. Tergopoh-gopog ku hampiri dan kusapa.
“Layla? Lama nggak ketemu, gemukan ya. Kamu kos dimana sih? Kok ngga ngasi kabar?” tanyaku langsung. Inilah suatu bentuk kebodohan laki-laki. Tidak pandai menggunakan kata-kata yang menyenangkan hati. Selanjutnya adalah pandangan melotot seakan tidak percaya dan aksi tutup mulut darinya.
“Guoblog banget sih?!!!” umpat Pungky padaku setelah Layla dan teman pergi meninggalkan kami.
Aku masih bengong. Sampai akhirnya Pungky menyuruhku cepat naik ke motornya.
“WOIII!!! Ntar keburu ilang!!! Buruan naik!!!” serunya.
Aku tergagap dan segera naik ke boncengannya.
“Nguber nya kemana Pung?” tanyaku bego.
Pungky diam saja sambil melajukan motornya ke sebuah belokan. Beberapa saat kemudian kami melihat motor tumpangan layla dan temannya beberapa puluh meter didepan.
“Sudah, diam saja, pokoknya ikuti.” Kata Pungky memotong niatku untuk memerintahkan mengejar. Aku pun menurut. Pikiranku melayang kesana kemari bertanya-tanya mengapa Layla tidak berkomentar sedikitpun tadi. Aku harus mencari cara lain untuk menghubungi dia.

Motor itu berhenti di depan sebuah rumah yang dipenuhi tanaman hias. Menurutku itu lebih tepat jika dikatakan sebagai hutan kecil. Tanaman hias dari berbagai ukuran ada di situ. Rumah itu terletak di tepi Jalan Kaliurang. Dengan pagar setinggi pinggang, aku bisa melihat Layla berbicara dengan temannya, mengucapkan sesuatu yang sepertinya memiliki arti “OK makasih ya, sampai besok.” Aku dan pungki masih mengamati dari jauh, sementara si teman meninggalkan Layla. Dia tidak masuk ke dalam rumah, melainkan menyeberang, memasuki sebuah warnet. Aku dan Pungky berpandangan.
“Kamu bener Pung, aku emang guoblog. Kan aku bisa lewat internet menghubungio dia” Kataku sambil nyengir.
“Dan memang masih goblog!!! Emangnya kamu tau emailnya?” jawab Pungky meremehkan.
Pungky benar, aku tidak punya alamat emailnya. Tapi aku pernah tahu, kalo Layla menyukai sebuah nickname. Masih ada harapan pikirku.
“Temanku yang goblog tersayang, aku kasi saran ya… Mending kamu nguntit terus, jadi tau dia ngapain aja, kemana aja, jam sela nya jam berapa. Bolehlah kirimi email untung-untungan, dengan domain yang biasa orang pakai. Kali aja ada yang masuk beneran. Aku mau balik ke kos, laper.” ceramah Pungky padaku.

Malamnya aku ke warnet. Pertama-tama yang aku lakukan adalah membuka email untuk mengirim email ke alamat
el-lail@domainapasaja.com.
“Mudah-mudahan bisa….” Doaku sambil menggosok-gosok telapak tangan dengan cemas.
New Inbox ku sudah ribuan karena aku sudah lama tidak membua email. Malas membacanya. Ingin rasanya langsung men-delete dan meng-compose. Tapi apa salahnya ditengokin dulu. Ku klik tulisan inbox, dan seluruh layar inbox isinya masih dalam bold marking. Kebanyakan dari promosi-promosi ga jelas. Eiitt…sebentar. Mataku tiba-tiba terpaku ke sebuah mail yang masuk. Dari Layla, aku langsung ber yes-yes dengan gaya mengokang kepalan ke pinggang beberapa kali. Boleh jadi aku sangat ke ge-er an karena mendapat email darinya.

Kulihat dia mengirimkan pada saat sekitar dia ke warnet tadi. Berarti dia langsung mengabariku? Mari kita baca isinya.

Mho, maaf lama tidak kasi kabar kalo aku pindah kos. Aku disuruh pindah ke tempat yang baru, biar deket dengan kos-kosan abangku. Soalnya Papa n Mama pinginnya begitu.
Mho, kamu jangan berpikir kalo abangku yang melarang aku ngasi tau ke kamu. Dia aja ngga tau kalo kamu juga di Jogja. Aku memang ngga ngasi tau dia.
Sebenarnya ada alasan lain yang bikin aku pindah kos dan aku belum mau kamu tau. Aku memang pingin menghindar dulu. Dari siapa pun. Temen-temen SMA yang di Jogja juga tidak aku kasi tau. Ini memang keinginanku. Biarin aja aku seperti ini dulu Mho.

Maaf.
El-lail

“Ada yang tidak beres. Pasti telah terjadi sesuatu pada dirinya. Duuh..gimana ya. Dan, darimana pula dia tahu alamat emailku?” pikirku buntu. Sepertinya aku perlu menjalankan usul Pungky.

Jam 6 pagi keesokan harinya, aku sudah nongkrong di tepi Jalan Kaliurang, berbekal hardboard, kertas dengan kolom-kolom, pulpen, counter, handuk, topi, kacamata hitam, botol minuman, sebungkus rokok dan beberapa lembar Koran untuk alas duduk. Hardboard dan kertas berkolom itu adalah sisa perlengkapanku sewaktu menjadi counting-surveyor kendaraan di jalan raya bulan lalu. Kerja sambilan yang menjanjikan. Hanya bermodalkan kuat bengong selama 8 jam dan koordinasi anggota tubuh yang mumpuni. Mata melihat kendaraan yang lewat, dikirimkan ke otak, diklasifikasi dan dihitung, berdasarkan tipe kendaraan, ditransfer ke ujung jempol tangan kiri dan kanan untuk menekan tombol counter. Dibayar dengan jumlah yang lumayan, cukup untuk hiburan. Nah dengan kamuflase ini, aku mengambil sejarak 50 m. Aku menjalani cara ini di dekat kosnya dan kampusnya. Dan yang berhasil kusimpulkan, dia berangkat ke kampus jam 9 pagi, pulang langsung kursus, dan sudah ada di kos, sebelum jam 5 sore. Sabtu dan minggu, dia didatangi abangnya pada pagi dan malam hari. Ternyata Layla memang ke warnet setiap pulang kursus.
“Wah…udah bikin aku kege-eran…” pikirku malu.

Satu setengah minggu mengamati, aku ke warnet, untuk mencoba memberanikan diri untuk mengiriminya email. Aku bertanya basa-basi mengenai hari-harinya, kegiatannya, tanpa menyinggung isi email dia yang sebelumnya. Dan dia menanggapinya dengan senang. Dari email-email itu aku jadi tahu kalo aku begitu bodoh. Dia dapat mengetahui emailku dengan men-search namaku di website kampusku. Disitu lengkap tertulis nama, fakultas-jurusan, nomor induk, dan emailku. (Hiks bodohnya). Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertemu. Caranya adalah berpura-pura main ke warnet yang biasa dia datangi. Kira-kira di jam yang sama dengannya. Rencana itu berjalan mulus. Aku membuat seolah-olah tidak sengaja bertemu dengannya di situ.
“Loh…Layla? Sering main di sini tho?” sapaku.
“Mho? Kok sampai kemari ngenetnya?” jawabnya kaget, tapi dengan ekspresi yang menyenangkan untuk dipandang.
“Mau pulang?” tanyaku.
“Hmmm…iya. Kamu mau kemana?”
“Ga tau ya, mungkin ke toko buku, cari-cari bacaan. Mau ikut?” tawarku taktis, karena ajakan ini pasti sulit ditolaknya. Dia begitu suka buku.
“Hmmmm….gimana ya…udah sore.”
“Masa sih? Ada acara lagi? Aku anterin tepat waktu deh, janji.”
“Ngga ada sih, tapi…. Hmmm….emangnya kamu bawa helm dua?” dia mulai tergoda ajakanku.
“Helm mah gampang. Ntar mampir kos ku.” Jawabku
“Ngga usah, di kos ku aja, deket kok. Tuh diseberang.” Tukasnya cepat.

Sejak saat itu aku semakin sering email-emailan, dan main ke kosannya. Pergi bersamanya untuk mencari buku, melihat-lihat pameran, jajan bareng (satu mangkuk salad berdua tak akan ku lupa). Tetap di dalam margin waktu yang telah aku teliti. Sesaat kurasa dia terlupa dengan hal yang mengganggunya dulu. Hal yang membuat aku terus penasaran. Dan sesaat aku pernah menemukan pandangannya sedang termenung. Seperti perasaan bersalah menurutku.

Tiba-tiba dia tidak ingin ditemui lagi. Dia menelpon kos ku dan mengatakan padaku bahwa dia sedang tidak ingin ditemui lagi untuk sementara. Aku langsung menuju ke kosnya. Dia tidak ada. Aku datangi lagi beberapa jam kemudian, masih tidak ada. Malam hari, esoknya, esoknya lagi, masih tidak ada. Email-emailnya? Kosong. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Debby teman kos nya yang memang hanya satu-satunya.
“Layla, sedang bingung. Di kampus, dia ditaksir sama seseorang. Sangat tergila-gila padanya. Tapi dengan cara yang mengganggu. Layla pun takut. Aku teman sekamarnya dari awal kuliah. Akupun ikut pindah ke sini, karena kasian kalau dia sendirian.” Si teman kos menjelaskan padaku.
“Abangnya kemana?” tanyaku singkat.
“Aku tau maksudmu. Mengapa abangnya tidak melakukan sesuatu? Aku juga tidak tahu. Sepertinya abangnya punya masalah dengan cowok tadi. Dan entah kenapa abangnya kok seperti tidak berkutik. Yang dia coba lakukan adalah memindahkan kos adiknya ke sini, dekat dengan kosan dia.” Jawab Debby.
“Layla cukup senang saat bersamamu akhir-akhir ini. Tapi untuk perasaan dia yang sesungguhnya aku pun tidak tahu. “lanjutnya.
“Maksudnya?” tanyaku tidak paham.
“Layla beberapa waktu lalu bercerita mengenai seorang cowo. Yang mungkin pernah dekat dengannya. Sekarang cowo itu di Surabaya. Sepertinya kalian dulu dari kota yang sama deh.” Debby menjelaskan.
“Hmmm… ada hubungannya dengan hilangnya Layla?” tanyaku lagi

Kesimpulannya, Layla akan ke Surabaya sekaligus menengok adiknya yang baru masuk kuliah. Dan Debby tidak tahu kapan persisnya Layla akan berangkat. Larut Malam, setibanya dikos, sepulang aku memasang spanduk dan menempel poster (uang tambahan lainnya) aku mendapat pesan yang tertempel di pintu kamar.
“Mho, dicariin Layla. Katanya ada yang mau dijelasin sama dia. Mending buruan temui dia deh” ini tulisan Pungky.
Aku langsung membangunkan Pungky di kamar sebelah. Dia menjelaskan kalau tadi sore Layla menelpon, dan mencariku. Dia ingin aku ke kos nya malam ini. “Dari nada suaranya sepertinya bingung Mho” hasut Pungky.
“Sekarang sudah jam setengah 12, mana boleh bertamu” aku bingung
“Besok pagi-pagi, ke kos nya aja. Kalo jam tujuh kayaknya gapapa deh.”saran Pungky.

Aku tidak bisa tidur. Kepalaku pusing, dan badanku sedikit demam. Aku harus minum obat….

Pagi harinya, aku bangun jam hampir jam tujuh. Aku langsung berlari ke kamar mandi.
“Hadimin……….!!!! Buruan woiii….!!!! Kaya cewek mandinya?” teriakku kesal didepan pintu.
Hanya cuci muka dan gosok gigi aku berangkat menuju ke kos Layla. Setibanya di sana, aku bertemu Debby. Dia mengatakan kalau Layla baru saja berangkat. Layla kecewa dan sedih padaku karena tidak menemuinya tadi malam. Debby mengatakan Layla naik kereta ekonomi, yang berarti adalah stasiun lempuyangan. Aku langsung pamitan dan ngebut menuju stasiun Lempuyangan. Berharap ada kesempatan untuk bertemu.

Loket lempuyangan tidak penuh, tapi cukup panjang antriannya. Dari atas motor, kulihat Layla sedang antri di urutan ke tiga. “Hore!!!!” hatiku girang. Aku segera memarkirkan motorku dan menuju ke pintu masuk. Sial, aku dilarang masuk, harus membeli tiket masuk terlebih dahulu. Setelah berhasil masuk, aku mencari-cari Layla. Kulihat kereta sudah siap berangkat. Jadwal menunjukkan akan berangkat 2 menit lagi. Aku mencoba menyisir per gerbong. Berharap akan menemukan dirinya. Pengumuman pemberangkatan kereta berbunyi. Aku ingin nekat, ikut kereta ini. Tapi aku ingat kalau uang di dompetku semalam tinggal Rp. 16.000. Tiket masuk Rp.500. Sedangkan tiket ke Surabaya adalah 16.000. Kalau aku tanpa tiket bisa dua kali lipat. Kereta terasa mulai bergerak. Aku pun turun. Memandangi gerbong-gerbong yang perlahan satu per satu melintasiku. Jendela gerbong terakhir kulihat sosok yang kukenal. Semakin dekat, semakin yakin bahwa itu adalah Layla. Ketika tepat melintas dihadapanku, dia mengalihkan pandangannya, seakan-akan aku tidak disitu. Aku hanya bisa menunduk lemas, menatap tiket masukku tadi. Kulihat tanggalnya. Hari ini adalah hari ulang tahunnya.

Senin, 22 Desember 2008

Backdrop Memories.....


Kapankah dirimu benar-benar suka dengan seseorang? Kebanyakan saat diusia remaja kan? Disaat kematangan fisik seseorang diiringi dengan rasa kekaguman indah-aneh yang berlebihan terhadap lawan jenis muncul tanpa terkendali.

Seperti kebanyakan remaja laki-laki, mereka tidak tahu persis apa yang mereka dapatkan dan apa yang mereka inginkan. Naik kelas 3 SMP, dan menjadi wakil peserta Jambore, aku terpesona oleh kecantikan pramuka putri dari propinsi Jawa Barat, kontingen Kota Cirebon, . Cantik, putih, rambut dibawah telinga, mata bulat, bibir seksi, pintar, jagoan semaphore dan tali temali. Berkoresponden dengannya selama semester pertama di kelas 3, cukup mengubah perilaku burukku di sekolah. Aku jadi lebih menghargai dan menghormati temen perempuan, suka menolong mereka tanpa imbalan apapun, rajin belajar hingga aku bisa masuk 5 besar pada semester ganjil dan ranking 3 pada semester akhir(semester genap kelas 2 aku rangking 29 weheheheh….) Hebat benar kekuatan cinta. Apa benar itu kekuatan cinta? Menurutku hanya kilauan semu yang akan bertepuk sebelah tangan.

Sampai saat perpisahan pun tiba. Aku jadi panitia perpisahan kelas. Mereka ingin gambar-gambarku dan warna-warniku menghiasi suasana pesta. Yang dengan bodohnya aku jadi terlalu mendominasi (pasti ulah Nopat). Aku mual dengan semua tindak tandukku yang sama sekali bukan aku. Nopat, selalu sok iye dalam segala situasi. Shit…!!!

Minggu pagi, setelah malam perpisahan. Aku ke rumah, hmmm… sebut saja namanya Drupadi. Cewek manis, pipi gembul, berkacamata dan selalu riang gembira. Pokoknya cocok jadi EO. Belakangan ini aku baru tahu kalo dia adalah teman TK ku. Aku kerumahnya, untuk membantu membereskan pernak-pernik semalam. Drupadi sudah mandi, kaos hijau lumut, celana selutut, makin manis dengan kacamata imut.
“Yang lainnya sudah aku beresin, tinggal Back Drop. Harus dibersihin dikit-dikit tempelannya.” Sambut dia dengan senyuman tanpa basa-basi.
Aku masuk ke ruang tamu, disitu sudah terhampar, Back Drop hitam yang menutupi kursi panjang.
“Waduh…lumayan lama nih.” Kataku.
“Kamu dari ujung situ, aku ujung satunya!” pandunya cuek.

Kami pun memulai mencabut-cabut tempelan huruf, bunga dan bintang yang ada di Backdrop. Sembari ngobrol, mengenang kisa-kisah lucu kami selama 3 tahun ini. Ada kejadian yang berkesan baginya, yang bagiku sepele. (inilah salah satu bentuk kebodohan lelaki). Aku pernah mengajaknya makan bakso dan es campur sepulang sekolah (saat itu kami masuk siang). Aku mengajaknya lantaran aku menang lomba Kaligrafi di sebuah Perumnas (padahal aku bukan warga situ), dan janji akan mentraktirnya. Proses traktiran sangat aneh. Aku bersepeda duluan dan menunggunya di pangkalan bemo. Dia datang, turun dari bemo, aku harusnya menemani, yang ada aku cuman nyamperin dan bilang,
“Aku tunggu di situ ya, biar aku pesenin dulu.”
Sesampainya di warung bakso, kami duduk saling membelakangi. Ngobrol pun tidak. Hanya menunggu, makan, say hello, dan pulang. (sampai saat ini aku masih mengutuki kebodohanku-itu kencan pertama dia).

Tanpa terasa waktu terus berjalan, dan backdrop semakin mendekatkan kami berdua. Aku tiba-tiba mengerti dia. Dan dia ternyata sudah sangat mengerti aku. Kemana saja aku selama ini? Sikap dan perhatiannya padaku, adiknya yang selalu iseng menggodaku. Bodoh. Pikiranku waktu itu mengawang-awang ke Cirebon. Sifat pujangga dan pemimpi Zenn, menutupi mataku. Fiuhh…
Saat duduk kami sudah bersebelahan, dan aku merasa ada keindahan di hubungan yang tidak jelas ini. Kami tidak perlu berkata-kata. Kami tidak perlu berebutan tempelan mana yang dicabut lebih dulu. Selaras, harmonis, yang serasa tidak akan lekang oleh waktu. Akhirnya kami hanya diam….mencari-cari tempelan backdrop yang sudah bersih, hanya agar alas an kami berdekatan bisa diterima.
“Weeeee…..ngapain kalian?” tiba-tiba ada suara dari pintu.
Murthi, sahabat Drupadi temen kelas sebelah datang, iseng mampir katanya. Seruan pelan darinya cukup buat kami gelagapan. Membuyarkan awal bersemi hubungan indah diantara aku dan Drupadi.
“Bubaaar…grak!!!!” kata Nopat didalam pikiranku.

Minggu, 21 Desember 2008

Layla dan Majnun


Semua orang pasti mengenal kisah Layla dan Majnun. Kisah antara sepasang kekasih yang tidak dapat bersatu karena segala jurang perbedaan diantara mereka. Tak kuasa menahan hasrat cintanya yang menggelora, sang laki-laki mengembara dan selalu menyerukan nama Layla, sampai dia dijuluki Majnun.

Kalo Majnun-nya aku, itu lain cerita. Saat SMP kelas 2, aku punya teman perempuan. Sebut saja Layla. Anaknya mungil, hitam manis, rambut keriting, bibir penuh tapi kecil, mata indah dengan kacamata. Pada intinya ankanya sangat menarik (bagi yang paham soal wanita). Si Nopat, kembar siam keparatku, berkomentar:
“Mho, coba lihat si Layla. Dan bayangkan saat dia dewasa. Cantik kan?” hasutnya.
Dengan bodoh ku imajinasikan dirinya dengan template dewasa. Ternyata benar. Layla memang mempesona. (cara berimajinasi ini masih efektif, dengan menetapkan template-templete beberapa kondisi, kami bisa memperkirakan apa yang akan terjadi pada diri seseorang hehehheheh…)

Suatu malam, diadakan inagurasi seni di Balai Budaya kota kecil kami. Aku dan teman-teman sekolah datang untuk membuat tugas kesenian tentang kegiatan seni di kota kami, Aku bertemu Layla, dan kami duduk bersebelahan. Panggung sedang mementaskan kisah roman dua anak manusia. Aku lupa persisnya apa. Karena perhatianku mengarah ke Layla yang diam saja, menjawab apa yang aku tanyakan dengan singkat dan cepat.
“Dia grogi berada disebelah cowok. Kujamin, dia terbawa suasana pentas, dan butuh sikap romantis dari laki-laki.” Tiba-tiba Nopat masuk ke pikiranku, mengambil alih tubuhku, dan aku hanya bisa diam tidak berdaya.
Kulihat dia menggenggam tangan Layla, sambil menatap, dan kudengar dia berbisik…
“Kamu tambah manis kalo ngga pake seragam…”
"GUBRAKKK…!!!! Nopat Jahanam!!!!” Seruku tanpa bersuara.
Layla hanya tersipu dan mencoba mempertahankan pandangannya ke panggung. Aku tahu, dia senang dengan sikap lembut tadi.
“Cup…” Nopat mengecup rambut Layla.
Dan
“Cup” lagi… sekarang mendarat di pipi kanan nya. Tiba-tiba aku sudah pulih dari kesadaran dan melihat Layla menatapku dan menunduk dengan malu-malu.

Singkat, padat, berisi, seperti doa sebelum makan, aksi Nopat langsung memberikan tuah. Tiba-tiba, aku ditarik seseorang keluar gedung, dan di parkiran sepeda dan dihajar diperut, 2 kali. Aku melintir.
“Jangan macam-macam sama Layla!!!” bisik dia geram sambil merenggut kaosku. Dia kembali ke gedung. Kemudian keluar lagi bersama Layla, mengambil motor RX-King nya, menggonceng Layla dan mengencangkan suara gas motornya didekatku. Layla cuma diam saja. Senyum pun tidak. Maaak…ternyata dia abangnya Layla yang sudah SMA itu. Dia duduk dibelakang kami, dan melihat aku, eh, Nopat mengecup adiknya. Ya wajarlah kalo dia murka dan menghajarku. Kakak mana yang bisa terima adiknya diperlakukan begitu di depan matanya? Aku sudah pasti di Black List oleh keluarganya.

Sekedar informasi, aku mengulangi kesalahan ini saat kelas 1 SMA. Aku melakukan Kiss Bye ke Layla, yang disambut Kiss Bye balik olehnya plus hantaman di perut, 2 kali dari abangnya.