Selasa, 23 Desember 2008

Elegi Lempuyangan (Layla & Majnun 2)


“Hadimin……….!!!! Buruan woiii….!!!! Kaya cewek mandinya?” teriakku kesal didepan pintu.

Dua tahun yang lalu aku datang ke kota ini untuk menyelesaikan kuliahku. Layla lebih dulu datang ke sini. Dia sudah menentukan kuliahnya sebelum aku. Aku hanya mengandalkan hasil UMPTN. Tidak ada cadangan lain. Hanya kota ini. Jogjakarta, kota berkumpulnya para pelajar dari seluruh pelosok negeri ini.

Aku masih ingat, kami sempat berkirim surat sebelum kedatanganku ke kota ini. Sehari setelah kelulusan SMA, aku main ke rumahnya. Membawakan tempat pensil yang aku buat sendiri. Aku buat saat selesai ujian akhir, untuk mengisi waktu. Aku menanyakan apakah dia menyukai bersurat? Ternyata dia sangat suka berkorespondensi, hanya saja belum ada yang harus dia kirimi surat.
“Kamu bisa bersurat-suratan denganku” tawarku.
“Sungguh?” sahutnya.
“Ya… Kalau sudah dapat kos, kabari aku ya”
Pada saat itu, teknologi telpon selular masih sangat mahal. Internet pun jarang.
Aku tidak tahu persis apa yang sedang ada dianganku saat itu. Yang aku tahu, aku berusaha untuk meminta maaf atas kenakalan-kenakalan dan keisenganku dulu, yang pasti telah menggores hatinya. Yang aku inginkan pada saat itu adalah tatapan mata yang sudah memaafkan aku, yang belum aku dapatkan sampai saat ini.

Suratnya datang. Dia menceritakan suasana kota Jogja, kegiatan bimbingan belajarnya, lingkungan kos-kosannya, dan dorongan semangat buatku untuk ke sana.
“Aku akan ke kota tempat dirimu berada” Tekadku dalam hati.
Dia mendaftar di kota Jogja dan Malang. Begitu juga aku. Dia mendaftar universitas swasta terkenal di jogja. Aku tidak. Perekonomian keluargaku terbatas. Hanya UMPTN, ya, itu saja.

Aku diterima di PTN di Jogja, dia di PTS. Saat aku sampai di Jogja, dia sudah pindah, dan belum sempat mengabari. Semester pertama, aku disibukkan dengan persiapan dan adaptasi dunia perkuliahan. Terlena disuasana dan teman baru, lingkungan baru, kabar darinya semakin lama hilang begitu saja. Teman-temanku juga tidak tahu dia persisnya ada di mana. Hanya ada kabar tidak jelas dia di daerah sini, pernah liat di situ, dan berbagai informasi yang memusingkan lainnya. Walau pelan, aku masih terus mencarinya.

Sampai hari pada suatu siang, Pungky, temen kos ku, mengatakan pernah melihat Layla di dekat jalan Gejayan. Melintas menyeberangi jalan, masuk tempat kursus komputer. Kuminta Pungky untuk mengantarkanku ke sana. Dan setelah ku bertanya, basa-basi untuk mencari tahu. Satu jam lagi peserta kursus akan keluar. Aku dan Pungky menunggu di dekat tukang gorengan. Satu jam kemudian, kulihat Layla dan satu orang temannya menuju parkiran motor. Tergopoh-gopog ku hampiri dan kusapa.
“Layla? Lama nggak ketemu, gemukan ya. Kamu kos dimana sih? Kok ngga ngasi kabar?” tanyaku langsung. Inilah suatu bentuk kebodohan laki-laki. Tidak pandai menggunakan kata-kata yang menyenangkan hati. Selanjutnya adalah pandangan melotot seakan tidak percaya dan aksi tutup mulut darinya.
“Guoblog banget sih?!!!” umpat Pungky padaku setelah Layla dan teman pergi meninggalkan kami.
Aku masih bengong. Sampai akhirnya Pungky menyuruhku cepat naik ke motornya.
“WOIII!!! Ntar keburu ilang!!! Buruan naik!!!” serunya.
Aku tergagap dan segera naik ke boncengannya.
“Nguber nya kemana Pung?” tanyaku bego.
Pungky diam saja sambil melajukan motornya ke sebuah belokan. Beberapa saat kemudian kami melihat motor tumpangan layla dan temannya beberapa puluh meter didepan.
“Sudah, diam saja, pokoknya ikuti.” Kata Pungky memotong niatku untuk memerintahkan mengejar. Aku pun menurut. Pikiranku melayang kesana kemari bertanya-tanya mengapa Layla tidak berkomentar sedikitpun tadi. Aku harus mencari cara lain untuk menghubungi dia.

Motor itu berhenti di depan sebuah rumah yang dipenuhi tanaman hias. Menurutku itu lebih tepat jika dikatakan sebagai hutan kecil. Tanaman hias dari berbagai ukuran ada di situ. Rumah itu terletak di tepi Jalan Kaliurang. Dengan pagar setinggi pinggang, aku bisa melihat Layla berbicara dengan temannya, mengucapkan sesuatu yang sepertinya memiliki arti “OK makasih ya, sampai besok.” Aku dan pungki masih mengamati dari jauh, sementara si teman meninggalkan Layla. Dia tidak masuk ke dalam rumah, melainkan menyeberang, memasuki sebuah warnet. Aku dan Pungky berpandangan.
“Kamu bener Pung, aku emang guoblog. Kan aku bisa lewat internet menghubungio dia” Kataku sambil nyengir.
“Dan memang masih goblog!!! Emangnya kamu tau emailnya?” jawab Pungky meremehkan.
Pungky benar, aku tidak punya alamat emailnya. Tapi aku pernah tahu, kalo Layla menyukai sebuah nickname. Masih ada harapan pikirku.
“Temanku yang goblog tersayang, aku kasi saran ya… Mending kamu nguntit terus, jadi tau dia ngapain aja, kemana aja, jam sela nya jam berapa. Bolehlah kirimi email untung-untungan, dengan domain yang biasa orang pakai. Kali aja ada yang masuk beneran. Aku mau balik ke kos, laper.” ceramah Pungky padaku.

Malamnya aku ke warnet. Pertama-tama yang aku lakukan adalah membuka email untuk mengirim email ke alamat
el-lail@domainapasaja.com.
“Mudah-mudahan bisa….” Doaku sambil menggosok-gosok telapak tangan dengan cemas.
New Inbox ku sudah ribuan karena aku sudah lama tidak membua email. Malas membacanya. Ingin rasanya langsung men-delete dan meng-compose. Tapi apa salahnya ditengokin dulu. Ku klik tulisan inbox, dan seluruh layar inbox isinya masih dalam bold marking. Kebanyakan dari promosi-promosi ga jelas. Eiitt…sebentar. Mataku tiba-tiba terpaku ke sebuah mail yang masuk. Dari Layla, aku langsung ber yes-yes dengan gaya mengokang kepalan ke pinggang beberapa kali. Boleh jadi aku sangat ke ge-er an karena mendapat email darinya.

Kulihat dia mengirimkan pada saat sekitar dia ke warnet tadi. Berarti dia langsung mengabariku? Mari kita baca isinya.

Mho, maaf lama tidak kasi kabar kalo aku pindah kos. Aku disuruh pindah ke tempat yang baru, biar deket dengan kos-kosan abangku. Soalnya Papa n Mama pinginnya begitu.
Mho, kamu jangan berpikir kalo abangku yang melarang aku ngasi tau ke kamu. Dia aja ngga tau kalo kamu juga di Jogja. Aku memang ngga ngasi tau dia.
Sebenarnya ada alasan lain yang bikin aku pindah kos dan aku belum mau kamu tau. Aku memang pingin menghindar dulu. Dari siapa pun. Temen-temen SMA yang di Jogja juga tidak aku kasi tau. Ini memang keinginanku. Biarin aja aku seperti ini dulu Mho.

Maaf.
El-lail

“Ada yang tidak beres. Pasti telah terjadi sesuatu pada dirinya. Duuh..gimana ya. Dan, darimana pula dia tahu alamat emailku?” pikirku buntu. Sepertinya aku perlu menjalankan usul Pungky.

Jam 6 pagi keesokan harinya, aku sudah nongkrong di tepi Jalan Kaliurang, berbekal hardboard, kertas dengan kolom-kolom, pulpen, counter, handuk, topi, kacamata hitam, botol minuman, sebungkus rokok dan beberapa lembar Koran untuk alas duduk. Hardboard dan kertas berkolom itu adalah sisa perlengkapanku sewaktu menjadi counting-surveyor kendaraan di jalan raya bulan lalu. Kerja sambilan yang menjanjikan. Hanya bermodalkan kuat bengong selama 8 jam dan koordinasi anggota tubuh yang mumpuni. Mata melihat kendaraan yang lewat, dikirimkan ke otak, diklasifikasi dan dihitung, berdasarkan tipe kendaraan, ditransfer ke ujung jempol tangan kiri dan kanan untuk menekan tombol counter. Dibayar dengan jumlah yang lumayan, cukup untuk hiburan. Nah dengan kamuflase ini, aku mengambil sejarak 50 m. Aku menjalani cara ini di dekat kosnya dan kampusnya. Dan yang berhasil kusimpulkan, dia berangkat ke kampus jam 9 pagi, pulang langsung kursus, dan sudah ada di kos, sebelum jam 5 sore. Sabtu dan minggu, dia didatangi abangnya pada pagi dan malam hari. Ternyata Layla memang ke warnet setiap pulang kursus.
“Wah…udah bikin aku kege-eran…” pikirku malu.

Satu setengah minggu mengamati, aku ke warnet, untuk mencoba memberanikan diri untuk mengiriminya email. Aku bertanya basa-basi mengenai hari-harinya, kegiatannya, tanpa menyinggung isi email dia yang sebelumnya. Dan dia menanggapinya dengan senang. Dari email-email itu aku jadi tahu kalo aku begitu bodoh. Dia dapat mengetahui emailku dengan men-search namaku di website kampusku. Disitu lengkap tertulis nama, fakultas-jurusan, nomor induk, dan emailku. (Hiks bodohnya). Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertemu. Caranya adalah berpura-pura main ke warnet yang biasa dia datangi. Kira-kira di jam yang sama dengannya. Rencana itu berjalan mulus. Aku membuat seolah-olah tidak sengaja bertemu dengannya di situ.
“Loh…Layla? Sering main di sini tho?” sapaku.
“Mho? Kok sampai kemari ngenetnya?” jawabnya kaget, tapi dengan ekspresi yang menyenangkan untuk dipandang.
“Mau pulang?” tanyaku.
“Hmmm…iya. Kamu mau kemana?”
“Ga tau ya, mungkin ke toko buku, cari-cari bacaan. Mau ikut?” tawarku taktis, karena ajakan ini pasti sulit ditolaknya. Dia begitu suka buku.
“Hmmmm….gimana ya…udah sore.”
“Masa sih? Ada acara lagi? Aku anterin tepat waktu deh, janji.”
“Ngga ada sih, tapi…. Hmmm….emangnya kamu bawa helm dua?” dia mulai tergoda ajakanku.
“Helm mah gampang. Ntar mampir kos ku.” Jawabku
“Ngga usah, di kos ku aja, deket kok. Tuh diseberang.” Tukasnya cepat.

Sejak saat itu aku semakin sering email-emailan, dan main ke kosannya. Pergi bersamanya untuk mencari buku, melihat-lihat pameran, jajan bareng (satu mangkuk salad berdua tak akan ku lupa). Tetap di dalam margin waktu yang telah aku teliti. Sesaat kurasa dia terlupa dengan hal yang mengganggunya dulu. Hal yang membuat aku terus penasaran. Dan sesaat aku pernah menemukan pandangannya sedang termenung. Seperti perasaan bersalah menurutku.

Tiba-tiba dia tidak ingin ditemui lagi. Dia menelpon kos ku dan mengatakan padaku bahwa dia sedang tidak ingin ditemui lagi untuk sementara. Aku langsung menuju ke kosnya. Dia tidak ada. Aku datangi lagi beberapa jam kemudian, masih tidak ada. Malam hari, esoknya, esoknya lagi, masih tidak ada. Email-emailnya? Kosong. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Debby teman kos nya yang memang hanya satu-satunya.
“Layla, sedang bingung. Di kampus, dia ditaksir sama seseorang. Sangat tergila-gila padanya. Tapi dengan cara yang mengganggu. Layla pun takut. Aku teman sekamarnya dari awal kuliah. Akupun ikut pindah ke sini, karena kasian kalau dia sendirian.” Si teman kos menjelaskan padaku.
“Abangnya kemana?” tanyaku singkat.
“Aku tau maksudmu. Mengapa abangnya tidak melakukan sesuatu? Aku juga tidak tahu. Sepertinya abangnya punya masalah dengan cowok tadi. Dan entah kenapa abangnya kok seperti tidak berkutik. Yang dia coba lakukan adalah memindahkan kos adiknya ke sini, dekat dengan kosan dia.” Jawab Debby.
“Layla cukup senang saat bersamamu akhir-akhir ini. Tapi untuk perasaan dia yang sesungguhnya aku pun tidak tahu. “lanjutnya.
“Maksudnya?” tanyaku tidak paham.
“Layla beberapa waktu lalu bercerita mengenai seorang cowo. Yang mungkin pernah dekat dengannya. Sekarang cowo itu di Surabaya. Sepertinya kalian dulu dari kota yang sama deh.” Debby menjelaskan.
“Hmmm… ada hubungannya dengan hilangnya Layla?” tanyaku lagi

Kesimpulannya, Layla akan ke Surabaya sekaligus menengok adiknya yang baru masuk kuliah. Dan Debby tidak tahu kapan persisnya Layla akan berangkat. Larut Malam, setibanya dikos, sepulang aku memasang spanduk dan menempel poster (uang tambahan lainnya) aku mendapat pesan yang tertempel di pintu kamar.
“Mho, dicariin Layla. Katanya ada yang mau dijelasin sama dia. Mending buruan temui dia deh” ini tulisan Pungky.
Aku langsung membangunkan Pungky di kamar sebelah. Dia menjelaskan kalau tadi sore Layla menelpon, dan mencariku. Dia ingin aku ke kos nya malam ini. “Dari nada suaranya sepertinya bingung Mho” hasut Pungky.
“Sekarang sudah jam setengah 12, mana boleh bertamu” aku bingung
“Besok pagi-pagi, ke kos nya aja. Kalo jam tujuh kayaknya gapapa deh.”saran Pungky.

Aku tidak bisa tidur. Kepalaku pusing, dan badanku sedikit demam. Aku harus minum obat….

Pagi harinya, aku bangun jam hampir jam tujuh. Aku langsung berlari ke kamar mandi.
“Hadimin……….!!!! Buruan woiii….!!!! Kaya cewek mandinya?” teriakku kesal didepan pintu.
Hanya cuci muka dan gosok gigi aku berangkat menuju ke kos Layla. Setibanya di sana, aku bertemu Debby. Dia mengatakan kalau Layla baru saja berangkat. Layla kecewa dan sedih padaku karena tidak menemuinya tadi malam. Debby mengatakan Layla naik kereta ekonomi, yang berarti adalah stasiun lempuyangan. Aku langsung pamitan dan ngebut menuju stasiun Lempuyangan. Berharap ada kesempatan untuk bertemu.

Loket lempuyangan tidak penuh, tapi cukup panjang antriannya. Dari atas motor, kulihat Layla sedang antri di urutan ke tiga. “Hore!!!!” hatiku girang. Aku segera memarkirkan motorku dan menuju ke pintu masuk. Sial, aku dilarang masuk, harus membeli tiket masuk terlebih dahulu. Setelah berhasil masuk, aku mencari-cari Layla. Kulihat kereta sudah siap berangkat. Jadwal menunjukkan akan berangkat 2 menit lagi. Aku mencoba menyisir per gerbong. Berharap akan menemukan dirinya. Pengumuman pemberangkatan kereta berbunyi. Aku ingin nekat, ikut kereta ini. Tapi aku ingat kalau uang di dompetku semalam tinggal Rp. 16.000. Tiket masuk Rp.500. Sedangkan tiket ke Surabaya adalah 16.000. Kalau aku tanpa tiket bisa dua kali lipat. Kereta terasa mulai bergerak. Aku pun turun. Memandangi gerbong-gerbong yang perlahan satu per satu melintasiku. Jendela gerbong terakhir kulihat sosok yang kukenal. Semakin dekat, semakin yakin bahwa itu adalah Layla. Ketika tepat melintas dihadapanku, dia mengalihkan pandangannya, seakan-akan aku tidak disitu. Aku hanya bisa menunduk lemas, menatap tiket masukku tadi. Kulihat tanggalnya. Hari ini adalah hari ulang tahunnya.

Wilujeng Sumping - Bogor


Samar-samar kulihat sosok itu berdiri diujung tangga. Hanya diam, tidak melakukan apa-apa, hanya diam. Pandanganku masih samar. Kukejap-kejapkan mataku agar dapat melihat lebih jelas….

Bogor, kota hujan, kota sejuk dan menyenangkan. Di kota itu aku bekerja dibidang konstruksi, merenovasi sebuah gedung Bank Swasta, berupa bangunan berlantai tiga. Bertugas untuk mengawasi semua kegiatan konstruksi yang sedang berlangsung. Di Bogor, aku tidak punya kenalan siapa-siapa. Pada awalnya aku berencana untuk mencari kontrakan untuk tinggal sementara. Tapi, karena pertimbangan efisiensi dan penghematan biaya hidup, aku memilih untuk tinggal di gedung itu saja.

Kegiatan proyek berlangsung pada malam hari. Setelah Bank tutup, para pekerja bersiap-siap untuk melakukan aktivitasnya. Aku mengamati seluruh isi bangunan, yang ternyata masih baru, direnovasi karena ingin distandarisasi oleh pemilik Bank. Lantai 1 adalah untuk kegiatan nasabah rutin, yang berisi beberapa meja teller , ruang brankas, meja satpam, kursi tunggu antrian dan ATM. Lantai 2 adalah kegiatan manajerial Bank itu. Isinya adalah beberapa ruang kerja kepala cabang dan beebrapa meja kerja, serta toilet. Aku melanjutkan ke lantai 3, isinya adalah tumpukan berkas, beberapa meja yang terbalik, pembatas antrian, satu buah rak, dan beberapa kardus. Ada tempat kosong didekat jendela, diantara tumpukan berkas dan dinding.
“Perfect!!” kataku dalam hati.
Aku memutuskan untuk tidur di lantai 3. Aku bisa menambahkan beberapa lapisan kardus, meletakkan ranselku di rak, menjadi bantal jika perlu. Mandi pun bukan masalah, di lantai 3 juga ada toilet yang sering dipakai oleh satpam dan office boy. Pihak Bank pun tidak bermasalah jika aku numpang tidur disitu.
Lantai paling atas hanya berisi Genset, reservoir, dan lahan kecil untuk jemuran.

Sampai hari ketiga, belum ada kegiatan proyek yang berarti. Semua masih persiapan. Mobilisasi material, pengukuran dan identifikasi masalah, dan koordinasi dengan lingkungan setempat. Boleh dibilang, aku masih santai. Dan kesempatan ini aku pakai untuk menelusuri kota Bogor dengan berjalan kaki, dari satu sudut ke sudut yang lain. Berangkat meninggalkan gedung sejak jam 6 pagi dan kembali pada jam 6 sore, menjelang magrib.

Belum sampai tengah malam, semua pekerjaanku sudah selesai. Badanku penat, letih banget rasanya. Ingin segera tidur. Jam 11 malam, satpam mengunci pintu utama dan menuju peraduannya di kursi tunggu. Aku berpamitan untuk tidur dan naik ke lantai 3. Menghempaskan diri dihamparan dua lapis kardus, aku langsung tertidur.

Dalam tidurku aku mendengar ada suara orang yang sedang besenandung. Suaranya merdu, dan sepertinya sedang menyenandungkan lagu Sunda. Suara perempuan yang begitu lembut, lirih tapi menentramkan. Senandung itu semakin jelas ditelingaku. Aku membuka mata perlahan…dan senandung itu pun terhenti. Samar-samar kulihat sosok itu berdiri diujung tangga. Hanya diam, tidak melakukan apa-apa, hanya diam. Pandanganku masih samar. Kukejap-kejapkan mataku agar dapat melihat lebih jelas. Sosok yang tampak olehku adalah seorang perempuan yang mengenakan kebaya putih, berjarik panjang coklat tua dengan motif batik, bergelang selendang yang juga putih. Rambutnya dikombinasi antara sanggul dan geraian. Sederhana, tapi tetap anggun dan cantik. Perlahan, sosok itu mendekat dan duduk diatas ujung kakiku. Anehnya aku tidak merasakan apapun. Wajahnya menjadi lebih jelas sekarang. Oval, dengan alis tebal, mata bulat, bulu mata lentik, hidung mancung mungil, bibir yang juga mungil dalam kondisi tersenyum diatas dagu tirus membundar. Kuperhatikan, kulitnya putih bersinar, tapi sedikit tidak wajar. Berpendar dan setelah kuperhatikan memang transaparan. Aku dapat memandang bayangan samar-samar reling tangga dibelakangnya. Bulu kudukku merinding dan mencoba untuk bangun.
“Sudah, berbaring saja. Aku cuma sebentar.” Katanya sambil menahan bahuku dengan salah satu tangannya.
Aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Takut, tapi tertentramkan oleh aroma wangi bunga yang belum pernah aku temui.
“Wilujeng sumping, akang.” lanjutnya sambil tersenyum manis dan kemudian hilang dengan segala pesonanya.
Aku masih terbengong-bengong kebingungan dan mencari-cari kemana gerangan perempuan tadi. Kulihat jam di hape ku, masih jam 00.15. Masih ada 5 jam lagi waktuku untuk istirahat disini. Kedengar hujan turun lagi. Kualihkan pandangan ke arah jendela, nampak tetes-tetes air yang terkena sinar lampu di atap gedung.
“Bogor, kota hujan, dengan sambutanmu tadi, aku bakal betah di sini.” Kataku dalam hati.

T4hi Ayam


Masa kecil adalah masa yang paling menakjubkan. Sifat dasar manusia adalah selalu ingin tahu akan hal-hal yang baru, dan diberikan kemampuan otak untuk mengembangkan hipotesisnya, walau masih anak-anak sekalipun.

Sebagai anak-anak, rasa ingin tahuku lebih sering dinilai sebagai rasa ingin tahu yang tidak wajar, nyeleneh, melanggar pakem dsb..dsb. Rumahku, sempat dihuni oleh beberapa puluh ekor ayam kampung dari segala takaran. Dari piyik-piyik yang mendapat pelayanan VIP dengan lampu penghangat dan suplemen, hingga Jago atau Babon yang menunggu dimakamkan. (Kalo disembelih dagingnya luar biasa liat). Bagiku, tahi ayam adalah hal yang menarik. Bentuk, aroma dan warnanya bagiku sungguh lucu. Paling bau adalah yang berwarna coklat, yang menduduki peringkat ke 3, tahi binatang terbau. Pernahkah kamu merasakan sensasi meremas tahi ayam dengan tanganmu sendiri? Hehehheh aku pernah melakukannya.

Yang aku butuhkan adalah pelapis tangan yang cukup tipis. Aku tidak mungkin meminta pada ibuku sebuah sarung tangan karet (untuk operasi di rumah sakit) hanya untuk meremas tahi ayam. Akhirnya aku memilih menggunakan plastik bekas pembungkus gula. Cukup tipis dan lembut.

Kupilih tahi si Denok, babon tertua dan terbesar, dengan dimensi tahi yang paling besar pula tentunya, mengingat dia sudah menelurkan ribuan telur-telur bergizi yang menunjang pertumbuhan otakku dan kakak-kakakku. Gumpalan tahi itu berwarna hijau kehitaman dengan semburat putih dibeberapa titik. Hampir sebesar bola tennis. Ada dua tahi. Masih segar dan hasil produksi pagi hari sepertinya. Kuambil dan kuremas…hangat dan lembut… Kuambil yang satunya lagi, dingin dan lembut.
“Wow….” komentarku senang….

Senin, 22 Desember 2008

Jebakan Tali Kenur


Di pulau kecil ini masjid bisa seribu lebih jumlahnya. Tapi jangan salah, maling dan rampok pun tak kalah banyak jumlahnya. Angka tingkat pencurian cukup tinggi. Terurutama menjelang hari besar. Petugas ronda dapat disirep hingga tidur. Anjing dapat diracun sampai mati. Cara yang dapat dipilih untuk pertahanan adalah dengan menyusun “sambutan” yang meriah bagi maling-maling sialan itu.

Ide ini awalnya dari kakak laki-lakiku. Dia kesal karena sepatu dan celana jeansnya muksa disambar maling saat pulang liburan kuliah. Dia ingin membuat maling-maling itu jera. Minimal mengurungkan niatnya mencuri. Karena dia harus kuliah lagi, ide itu akulah yang akan mewujudkannya.

Pertama-tama identifikasi TKP. Kemudian menetapkan scenario pencurian. Yang akhirnya menentukan titik-titik “kematian” sang maling. Diputuskan oleh Aku, Zenn dan Nopat maling itu akan melewati 3-4 titik jebakan. Semua jebakan berupa tali kenur yang dibentang melintasi halaman. Yang kemudian diikatkan ke sebuah benda yang mampu menimbulkan kebisingan di dalam rumah, bahkan kampung.

Malam hari, setelah semua anggota rumah mulai tidur, aku menjalankan rencanaku.
Jebakan 1, halaman depan, membentang dari ujung pagar, melintang halaman secara diagonal setinggi lutut menuju pohon bonsai di pojok rumah, membelok ke tengah, masuk ke bawah pintu, terikat dengan kaleng biscuit Khong Guan yang kuisi dengan kelereng, ku letakkan di atas lemari makan.
Jebakan 2, antara halaman depan dan tengah, terbentang tali yang akan menjadi pengecoh, ku pasang setinggi leher orang dewasa.
Jebakan 3, antara pagar samping dengan jemuran, kubentang tali jebakan setinggi lutut, ku kaitkan dengan gallon cat yang kuletakkan diatas kandang ayam.
Jebakan 4, melintang diagonal antara sudut pemisah halaman depan dengan belakang, dan diikkat dengan seng bahan membuat cetakan pondasi jembatan punya bapak, yang aku letakkan di atap rumah.

Dari sisi kanan dan belakang rumah, kemungkinannya kecil, karena maling harus menembus rumah tetangga, dan harus menginjak atap asbes rumahku yang dijamin jika diinjak yang melebihi berat kucing akan ambrol.

Malam pertama, tidak ada kejadian. Malam kedua, jebakan 1 membuahkan hasil.
“BRENGGGG!!!!!” jam 2 pagi.
Kaleng Khong Guan yang kuisi kelereng jatuh membangunkan seisi rumah. Hanya maling bego yang mau bertahan jika Bapakku sudah keluar dari rumah. Konon tetangga pernah memergoki Bapakku menghantam muka maling dengan batu bata, yang akhirnya tertangkap diujung jalan. Kekekekekkek…

Malam ketiga, Jebakan gallon cat mendapat hasil.
“GUMBRENGGGG!!!!…WOKKKK PETOOKKK…!!!!! PETOOOOKKKK!!!!”
Ayam-ayam menjadi ribut, membuat bapakku gusar dan memukul kentongan, dengan kode waspada. Dijamin, malam itu rumah kami aman.

Malam ke empat, tidak ada kejadian. Malam kelima, sepi. Malam keenam, seng yang ada di atap rumah meluncur ke depan pelataran dapur.
“GROMBYAAAAANNNNGG!!!!!!” seisi kampung pasti bangun. Ayam-ayam bangun. Anjing-anjing menggonggong.

Akhirnya maling itu tertangkap, dengan sedikit baku hantam dengan petugas ronda. Maling itu dipotong kupingnya dengan pisau dapur. Biar jera, kata bapak-bapak itu. Dari hasil keesokan harinya, saat aku membereskan jebakan, semua jebakan yang sebelumnya terputus. Tali kenur yang membentang telah dipotong oleh maling itu.
“Hmmm…orang yang sama.” Aku mengambil kesimpulan.


Sejak saat itu pencurian di kampungku jarang terdengar. Paling-paling pencurian sandal di masjid, atau mangga dan rambutan di halaman.

Sesekali aku memasang tali kenur ke pintu gerbang, sehingga pintu itu bisa aku buka dari kamarku. Hehehehhe… senang rasanya melihat Kepala Lingkungan, Tukang Bakso, Ibu-ibu rumpi cerewet, atau si anjas (anak laki-laki sok sebelah rumah) terbirit-birit kalo melihat pintu gerbang rumahku terbuka sendiri.

Backdrop Memories.....


Kapankah dirimu benar-benar suka dengan seseorang? Kebanyakan saat diusia remaja kan? Disaat kematangan fisik seseorang diiringi dengan rasa kekaguman indah-aneh yang berlebihan terhadap lawan jenis muncul tanpa terkendali.

Seperti kebanyakan remaja laki-laki, mereka tidak tahu persis apa yang mereka dapatkan dan apa yang mereka inginkan. Naik kelas 3 SMP, dan menjadi wakil peserta Jambore, aku terpesona oleh kecantikan pramuka putri dari propinsi Jawa Barat, kontingen Kota Cirebon, . Cantik, putih, rambut dibawah telinga, mata bulat, bibir seksi, pintar, jagoan semaphore dan tali temali. Berkoresponden dengannya selama semester pertama di kelas 3, cukup mengubah perilaku burukku di sekolah. Aku jadi lebih menghargai dan menghormati temen perempuan, suka menolong mereka tanpa imbalan apapun, rajin belajar hingga aku bisa masuk 5 besar pada semester ganjil dan ranking 3 pada semester akhir(semester genap kelas 2 aku rangking 29 weheheheh….) Hebat benar kekuatan cinta. Apa benar itu kekuatan cinta? Menurutku hanya kilauan semu yang akan bertepuk sebelah tangan.

Sampai saat perpisahan pun tiba. Aku jadi panitia perpisahan kelas. Mereka ingin gambar-gambarku dan warna-warniku menghiasi suasana pesta. Yang dengan bodohnya aku jadi terlalu mendominasi (pasti ulah Nopat). Aku mual dengan semua tindak tandukku yang sama sekali bukan aku. Nopat, selalu sok iye dalam segala situasi. Shit…!!!

Minggu pagi, setelah malam perpisahan. Aku ke rumah, hmmm… sebut saja namanya Drupadi. Cewek manis, pipi gembul, berkacamata dan selalu riang gembira. Pokoknya cocok jadi EO. Belakangan ini aku baru tahu kalo dia adalah teman TK ku. Aku kerumahnya, untuk membantu membereskan pernak-pernik semalam. Drupadi sudah mandi, kaos hijau lumut, celana selutut, makin manis dengan kacamata imut.
“Yang lainnya sudah aku beresin, tinggal Back Drop. Harus dibersihin dikit-dikit tempelannya.” Sambut dia dengan senyuman tanpa basa-basi.
Aku masuk ke ruang tamu, disitu sudah terhampar, Back Drop hitam yang menutupi kursi panjang.
“Waduh…lumayan lama nih.” Kataku.
“Kamu dari ujung situ, aku ujung satunya!” pandunya cuek.

Kami pun memulai mencabut-cabut tempelan huruf, bunga dan bintang yang ada di Backdrop. Sembari ngobrol, mengenang kisa-kisah lucu kami selama 3 tahun ini. Ada kejadian yang berkesan baginya, yang bagiku sepele. (inilah salah satu bentuk kebodohan lelaki). Aku pernah mengajaknya makan bakso dan es campur sepulang sekolah (saat itu kami masuk siang). Aku mengajaknya lantaran aku menang lomba Kaligrafi di sebuah Perumnas (padahal aku bukan warga situ), dan janji akan mentraktirnya. Proses traktiran sangat aneh. Aku bersepeda duluan dan menunggunya di pangkalan bemo. Dia datang, turun dari bemo, aku harusnya menemani, yang ada aku cuman nyamperin dan bilang,
“Aku tunggu di situ ya, biar aku pesenin dulu.”
Sesampainya di warung bakso, kami duduk saling membelakangi. Ngobrol pun tidak. Hanya menunggu, makan, say hello, dan pulang. (sampai saat ini aku masih mengutuki kebodohanku-itu kencan pertama dia).

Tanpa terasa waktu terus berjalan, dan backdrop semakin mendekatkan kami berdua. Aku tiba-tiba mengerti dia. Dan dia ternyata sudah sangat mengerti aku. Kemana saja aku selama ini? Sikap dan perhatiannya padaku, adiknya yang selalu iseng menggodaku. Bodoh. Pikiranku waktu itu mengawang-awang ke Cirebon. Sifat pujangga dan pemimpi Zenn, menutupi mataku. Fiuhh…
Saat duduk kami sudah bersebelahan, dan aku merasa ada keindahan di hubungan yang tidak jelas ini. Kami tidak perlu berkata-kata. Kami tidak perlu berebutan tempelan mana yang dicabut lebih dulu. Selaras, harmonis, yang serasa tidak akan lekang oleh waktu. Akhirnya kami hanya diam….mencari-cari tempelan backdrop yang sudah bersih, hanya agar alas an kami berdekatan bisa diterima.
“Weeeee…..ngapain kalian?” tiba-tiba ada suara dari pintu.
Murthi, sahabat Drupadi temen kelas sebelah datang, iseng mampir katanya. Seruan pelan darinya cukup buat kami gelagapan. Membuyarkan awal bersemi hubungan indah diantara aku dan Drupadi.
“Bubaaar…grak!!!!” kata Nopat didalam pikiranku.

Minggu, 21 Desember 2008

1 vs 10


Pernah berkelahi melawan 10 orang sekaligus? Waktu aku berumur 7 tahun, salah satu hobiku adalah berantem. Menerima tantangan anak mana saja. Yang paling heroik adalah kisah yang satu ini.

Siang itu, aku disuruh ibuku untuk membeli gula dan minyak tanah di warung, dekat lapangan bola kampung. Sambil membawa jerigen minyak tanah dan beberapa lembar ribuan, aku berjalan sambil melihat graffiti-grafiti nakal orang-orang dewasa yang penakut. Isinya tentang ancaman, tantangan, ungkapan cinta pada seseorang bahkam sampai makian kotor. Perbendaharaan kata-kata kotorku kebanyakan dari graffiti ini. Dalam perjalanan pulang, ada yang melempariku dengan batu sambil tertawa-tawa. Dua anak seberang lapangan, rival merebut layangan putus sedang duduk di pagar tanah yang sudah setengah ambruk.
“Bencong, masa anak laki-laki belanja? Bencong!!! Bencong!!” teriak salah satu.
Aku diam saja. Ibuku sudah menunggu.
“Dasar penakut!!! Gendut tapi penakut!!!” seru mereka lagi.
“Eh Monyet…..Ntar aku balik ke sini, ajak teman-temanmu semua. Aku lawan!” tantangku sengit seketika.
Kepalaku panas. Akupun berlari pulang, masuk rumah langsung ke dapur, meletakkan jerigen dan uang kembalian.
“Ehhh…mau kemana lagi?” Ibuku muncul dan bertanya.
“Berkelahi!!” jawabku sambil lari.

Saat aku ke lapangan bola, suasana sudah sepi. Pagar tanah sudah kosong, tidak ada anak-anak tadi berdiri disitu. Kudengar suara cekikikan di balik gundukan pasir. Salah satu dari mereka.
“Kalau Cuma bedua aku nggak takut. Panggil lagi semuanya!!” Tantangku lancang.
“Awas kalau kamu kabur…. Tunggu ya….!!!” Jawab dia sambil berlari menyeberangi lapangan.
Beberapa menit kemudian, datang sepuluh anak dengan ukuran yang beragam. Lima dari mereka adalah kakak beradik. Apa boleh buat pikirku….Maju!!!!
Dengan wajah penuh emosi sepuluh anak itu mengepung dan maju bergantian untuk menendang, memukuliku.
Pukulan pertama, kena di tulang pipi kiriku, sakit. Tendangan selanjutnya dari belakang, membuat kaosku ada cap kaki, lumayan sakit. Sebuah kaki mendarat di kuping kiriku, tidak terasa sakit. Sampai akhirnya aku tidak merasakan pukulan dan tendangan mereka. Yang ada aku hanya menarik tubuh salah satu dari mereka lalu ku hantam. Tarik-hantam, tarik-hantam, tarik-hantam, terus…. Pada saat itu aku merasa nikmatnya sebuah perkelahian. Pukulan mereka hanya menggoyangkan kepala dan badanku, tapi tidak sakit. Ketika salah satu kepala dari mereka sudah berada diperutku dan akan menjadi landasan sikutku, tiba-tiba…
“ADUHH!!!!” aku menjerit.
Kupingku di jewer, dan aku meronta. Ternyata ibuku yang menjewer. Aku ditarik pulang. Ibuku sedih karena ini puncak-puncaknya aku berkelahi. Bajuku kotor minta ampun. Pipiku biru. Rambutku isinya tanah semua. Setelah dimarahi dan diomeli tentang apa pandangan Kepala Kampung terhadapku yang telah menghajar 5 keponakan mereka, rasa sakit mulai menjalar.

Malam harinya Bapak mendapat laporan tentang kejadian siang tadi dari Kepala Kampung. Bapak bilang, laki-laki yang hebat itu bukan yang menang berkelahi. Tapi yang menang terhadap keinginannya untuk menyakiti.
“Adek ikut karate aja ya. Biar energinya tersalurkan dengan benar.” Kata Bapak.

Layla dan Majnun


Semua orang pasti mengenal kisah Layla dan Majnun. Kisah antara sepasang kekasih yang tidak dapat bersatu karena segala jurang perbedaan diantara mereka. Tak kuasa menahan hasrat cintanya yang menggelora, sang laki-laki mengembara dan selalu menyerukan nama Layla, sampai dia dijuluki Majnun.

Kalo Majnun-nya aku, itu lain cerita. Saat SMP kelas 2, aku punya teman perempuan. Sebut saja Layla. Anaknya mungil, hitam manis, rambut keriting, bibir penuh tapi kecil, mata indah dengan kacamata. Pada intinya ankanya sangat menarik (bagi yang paham soal wanita). Si Nopat, kembar siam keparatku, berkomentar:
“Mho, coba lihat si Layla. Dan bayangkan saat dia dewasa. Cantik kan?” hasutnya.
Dengan bodoh ku imajinasikan dirinya dengan template dewasa. Ternyata benar. Layla memang mempesona. (cara berimajinasi ini masih efektif, dengan menetapkan template-templete beberapa kondisi, kami bisa memperkirakan apa yang akan terjadi pada diri seseorang hehehheheh…)

Suatu malam, diadakan inagurasi seni di Balai Budaya kota kecil kami. Aku dan teman-teman sekolah datang untuk membuat tugas kesenian tentang kegiatan seni di kota kami, Aku bertemu Layla, dan kami duduk bersebelahan. Panggung sedang mementaskan kisah roman dua anak manusia. Aku lupa persisnya apa. Karena perhatianku mengarah ke Layla yang diam saja, menjawab apa yang aku tanyakan dengan singkat dan cepat.
“Dia grogi berada disebelah cowok. Kujamin, dia terbawa suasana pentas, dan butuh sikap romantis dari laki-laki.” Tiba-tiba Nopat masuk ke pikiranku, mengambil alih tubuhku, dan aku hanya bisa diam tidak berdaya.
Kulihat dia menggenggam tangan Layla, sambil menatap, dan kudengar dia berbisik…
“Kamu tambah manis kalo ngga pake seragam…”
"GUBRAKKK…!!!! Nopat Jahanam!!!!” Seruku tanpa bersuara.
Layla hanya tersipu dan mencoba mempertahankan pandangannya ke panggung. Aku tahu, dia senang dengan sikap lembut tadi.
“Cup…” Nopat mengecup rambut Layla.
Dan
“Cup” lagi… sekarang mendarat di pipi kanan nya. Tiba-tiba aku sudah pulih dari kesadaran dan melihat Layla menatapku dan menunduk dengan malu-malu.

Singkat, padat, berisi, seperti doa sebelum makan, aksi Nopat langsung memberikan tuah. Tiba-tiba, aku ditarik seseorang keluar gedung, dan di parkiran sepeda dan dihajar diperut, 2 kali. Aku melintir.
“Jangan macam-macam sama Layla!!!” bisik dia geram sambil merenggut kaosku. Dia kembali ke gedung. Kemudian keluar lagi bersama Layla, mengambil motor RX-King nya, menggonceng Layla dan mengencangkan suara gas motornya didekatku. Layla cuma diam saja. Senyum pun tidak. Maaak…ternyata dia abangnya Layla yang sudah SMA itu. Dia duduk dibelakang kami, dan melihat aku, eh, Nopat mengecup adiknya. Ya wajarlah kalo dia murka dan menghajarku. Kakak mana yang bisa terima adiknya diperlakukan begitu di depan matanya? Aku sudah pasti di Black List oleh keluarganya.

Sekedar informasi, aku mengulangi kesalahan ini saat kelas 1 SMA. Aku melakukan Kiss Bye ke Layla, yang disambut Kiss Bye balik olehnya plus hantaman di perut, 2 kali dari abangnya.


Ajumbae


Sakit ingatan, tidak waras, atau lebih sering kita kenal dengan sebutan gila, penyebabnya bermacam-macam. Trauma berat atau tekanan mental yang berlebihan biasanya menjadi penyebab mayoritas kegilaan pada diri seseorang. Ceritaku kali ini tentang salah satu pengalamanku berinteraksi dengan orang gila.

Namanya Ajumbae. Pemuda berusia 20-an dengan postur tubuh tinggi, berkulit hitam terpanggang sinar matahari, dengan rambut yang seperti paku, tumbuh dengan panjang yang sama dikepalanya, membuat bentuk bundar seperti bunga rumput. Kesenangannya duduk di ujung gang, tepi jalan. Sambil berseru-seru dengan semangat ke anak-anak sekolah menyuruh kami untuk rajin belajar. Tapi biasanya seruan itu diakhiri dengan tangisan tersedu-sedu.

Namanya juga anak-anak, termasuk aku, suka menggodanya. Dengan mendekatinya, kemudian memanggil namanya, trus kabur sambil tertawa-tawa setelah dia menoleh ke arah kami. Biasanya kami melakukan sambil berkelompok. Kalau sendirian mana berani. Waktu itu aku kelas 1 SD. Pulang sekolah, sekitar jam 10 pagi. Pulang seperti biasa, setengah berlari, agar cepat sampai rumah, ganti baju, dan pergi main lagi. Kulihat Ajumbae sedang terpekur di ujung jalan. Sifat tak terpujiku timbul. Kudekati dan ku kagetkan.
“WAAAAAAAAAAAAAAAAA….” Kuteriakkan keras-keras ke telinganya.
Dia terbangun kaget setengah mati, menatapku dan …. Hup!!!! Tangannya mencengkeram pergelangan tanganku.
Aku panik, cengkeramannya sangat kuat, aku tak bisa melepaskan diri. Ku pukul, ku tendang, ku cakar, dia tidak bergeming, hanya tertawa terkekeh sambil mengupil puas.
Aku menangis sejadi-jadinya. Dia seakan-akan menikmati nyanyian merdu dariku. Tersenyum-senyum dan tertidur lagi. Ya benar
… dengan tangan yang mencengkeram erat pergelangan tanganku.

Dua jam aku tersedu-sedu. Ujung jalan yang sepi, jarang sekali ada yang lewat. Sampai akhirnya, sebut saja Pak Nama, tetanggaku, lewat, dan mendekati kami. Ajumbae dibangunkannya. Ajumbae terbangun dan tersenyum.
“Sudah…lepas…lepas ya…” kata Pak Nama.
“Belajar…belajar…dia nakal….” Jawab Ajumbae sambil terkekeh-kekeh menatapku. Aku yang sudah lelah menangis, diam saja.
“Iya, sekarang sudah siang, dia mau belajar lagi.” Lanjut Pak Nama.
Aku dilepaskan, dan dia beranjak lalu jalan lagi berkeliling kampung, mencari tempat tidur yang lain.
“Belajar…!!!! Jangan lupa belajar!!!!” teriak dia saat menoleh ke arah kami.

Pak Nama mengantarkan aku sampai ke depan rumah. Rumahku masih kosong, karena Ibuku baru pulang jam 1 siang. Saat ibuku tahu, dia malah menertawakan aku dan mensyukuri kejadian ini.
“Makanya, jangan suka iseng!!!” pesan ibuku sambil tertawa lagi.

Ibuku bercerita kalau Ajumbae itu dulunya calon dokter. Tapi jadi dokter karena dipaksa kedua orang tuanya dan juga dokter. Tidak kuat menahan stress, dia menjadi gila. Dan selalu mengulang kata-kata orang tuanya padanya…
“Belajar…!!!! Jangan lupa belajar!!!!”

Ranggok


Waktu itu aku berusia 8 tahun. Aku dan Dudi, tetanggaku yang umurnya 1 tahun lebih tua dariku bercerita pernah mendengar suara “erangan” makhluk mitos itu.

“Suaranya seperti induk ayam yang terganggu ketika sedang mengerami telur…” kata Dudi.
“Ngga serem donk…” sahutku.
“Kalau kerasnya seperti corong masjid pas adzan di hutan yang sesepi itu, apa nggak serem?” jawabnya.
“Kalo ngga sendirian, aku berani.”
“Bener? Mau ke sana?”
“Berdua? Besok ya, pulang sekolah, bawa ketapel, bawa minum, aku tunggu di depan Gang.” Sahutku bersemangat.

Dudi, rumahnya di ujung Gang, sedangkan rumahku, no. 3 dari ujung jalan. Jam 1 siang kita bertemu di keesokan harinya. Ketapel sudah dalam genggaman, kerikil bundar sudah memenuhi kantong kain kami masing-masing. Misi siang itu adalah membuktikan keberadaan Ranggok, makhluk yang konon hidup di hutan aren seberang sungai. Orang-orang kampung selalu mengatakan kepada anak-anak mereka untuk jangan sekali-sekali main ke sana. (siapa yang peduli? Hehehhe…)

Perjalanan kami adalah menyeberangi jalan utama, menyusuri jalan kecil menjauhi desa, menuruni tebing sawah yang kira-kira 30 meter tingginya, melewati beberapa pemandian umum, melintasi beberapa petak sawah lagi, kuburan desa yang konon sejak jaman belanda, beberapa petak sawah lagi, sungai dan berakhir di hutan kecil yang mempunyai sekelompok pohon Aren.

Pepohonan yang rapat, gelap, dingin. Padahal saat itu siang hari. Udara terasa berat di hidung, mungkin ini yang namanya udara lembab. Dan kini kami sudah berada di tepi kelompok pohon aren yang memiliki kesan tumbuh membentuk sebuah lingkaran di dalam.

Dudi mendengar suara itu dari posisi tepat dimana dia berdiri sekarang. Tidak ada suara apapun selain angin yang menyusup disela-sela daun.
“Masuk?” bisikku pada Dudi. Dia mengangguk.
Sengaja kami melepas sandal, agar tidak terlalu berisik jika menginjak dedaunan.
Ternyata di dalam, sangat bersih, tidak ada daun yang jatuh. Tanah berwarna coklat kehijauan, dingin, dengan disinari cahaya temaram dari sela-sela daun. Tidak seperti yang dikatakan orang-orang, disini suasana sangat nyaman. Udara tidak selembab yang di awal tadi.

Tiba-tiba jantungku hampir copot, karena Dudi mencengkeram bahuku dengan keras. Rupanya saat dia melihat ke atas, disaat aku sedang melihat berkeliling, dia melihat sosok aneh itu. Aku mendongak ke atas, terkesiap, dan mau kencing rasanya. Tapi rasa ingin tahu kami, lebih besar dari rasa ingin kabur. Kami berhimpitan, melangkah pelan, menuju ke salah satu pohon, mencoba melihat lebih jelas. Sambil menahan napas dan kencing secara bersamaan, kami memfokuskan pandangan kami. Sebuah paha dan betis tertekuk berwarna hijau kehitaman (atau hitam kehijauan aku ga tau pasti), menghimpit batang aren. Setiap pohon ternyata ada dua sosok. Lengan kecil yang mendekap, tapi kami belum bisa melihat wajah mereka seperti apa.

“Mereka lagi tidur….” Kata Dudi.
“KROOOOOOORRKKK………………!!!!” tiba-tiba wajah itu berpaling dan bersuara.

Aku kencing seketika…. Dudi berteriak histeris (dia ternyata juga kencing di celana). Wajah itu, memiliki paruh kuning gelap kehitaman. Mata bulat berwarna kuning, aku yakin, itu pasti sebangsa unggas. Unggas yang besar, yang kuperkirakan sebesar tubuh anak-anak, bergerak, bersuara, yang membangunkan kawanannya. Pohon-pohon aren itu bergoyang dan bersuara gaduh. Kami kaku, tidak tahu akan melakukan apa dalam beberapa mili detik.
“WAAAAA…..” kami lari serabutan sambil berteriak. Terjatuh, bangun, tersungkur lagi. Tapi kami setelah itu kami tersadar, makhluk aneh itu tidak mengejar, hanya berisik saja.

“Sialan…bikin kaget aja” umpatku tersengal-sengal.
“Berani nggak?” Tanya Dudi sambil meloloskan ketapel dari lehernya.
“Hehehehhe…kita balas dendam kencing tadi.” Sambutku bodoh.

Dengan beberapa langkah dan lompatan, kami sudah dibawah kumpulan mereka dalam posisi membidik.

“WUSH…….WUSH….” kerikil bundar menyentuh betis hijau.
“WUSH…….WUSH….” lagi kerikil bundar menembus sekumpulan ranting, yang ternyata itu sarang bagi yang berukuran paling besar. Yang memiliki ukuran dua kali lebih besar, sebesar manusia dewasa.

Makhluk itu mengeluarkan kepalanya dari sarang, yang semakin jelas, sayap dan lengan mereka terpisah.

“KROOOOOORRKKKK…!!!!!”
Makhluk apa ini. Kami sampai sekarang tidak pernah tahu.

Kamipun kencing lagi. Menyesal rasanya. Kaki dan otak sudah langsung paham, tidak perlu koordinasi, tubuh kami langsung melesat kabur. Lari secepat-cepatnya keluar dari hutan. Dengan sekali kepak, mahluk besar itu menyebabkan kawanan yang kecil berloncatan, berputar-putar rendah disekitar pohon aren dan bergegas menuju ke arah kami. Mereka tidak mengejar kami lagi ketika kami sudah ada di tempat yang lebih terang. Apakah mereka sengaja atau karena tidak suka terik sinar matahari? Aku tidak tahu….

Sampai saat ini, Ranggok tetap jadi misteri buatku. Jika aku bertanya sama Dudi, dia seperti tidak ingat apa-apa.

“Jangan kesana, nanti gila” kata Dudi.
“Kamu benar Dudi, antara aku atau kamu yang sekarang sudah gila.” Jawabku dalam hati.

Jumat, 19 Desember 2008

The Born


Terlahir sebagai orang biasa, di keluarga yang juga biasa saja. Tumbuh sebagai anak laki-laki bungsu yang gendut, keras kepala, tapi cengeng. Hobi mengadu kesalahan orang lain. Mengganggu dan mengusili. Sampai orang-orang pun heran. Kok ada pikiran antik seperti itu di kepala anak kecil. Mampu melakukan semua kenakalan itu sendirian,yang ternyata belakangan ini aku tahu bahwa aku tidak sendirian. Ah sudahlah... nanti perlahan aku coba jelaskan.


Kamis menjelang magrib, pada akhir bulan, Ibu ku selesai main bulu tangkis dengan Bapak di halaman. Selesai mandi, mulas, dan minta diantar Bapak ke bidan Tatik.
Sesampainya di Bidan, masuk ruang bersalin,Bapak pulang untuk mengambil keperluan Ibuku. Beberapa menit kemudian kepalaku sudah minta keluar dari rahim Ibu. Satu jam kemudian barulah lahir utuh. Dari sebelum adzan magrib sampai adzan isya. Bapak yang niatnya mau nungguin Ibu pas melahirkan, sudah keburu melihat aku ninju-ninju pipi dibox, trus digendong perawat, baru di adzanin dan iqomah.


Itulah yang bikin aku punya dua kepribadian, atau sifat yang bertentangan. Sifat Kamis Legi dengan Jumat Pahing. Kombinasi yang bagus sebenarnya, dengan catatan, bisa dikendalikan dengan baik.


Kamis Legi

Mereka yang lahir pada hari Kamis Legi memiliki cita-cita yang mulia dan nilai-nilai yang tinggi. Mereka terkadang amat bijaksana, dikarenakan kemampuannya untuk melihat prospek jangka panjang dari suatu hal. Walaupun demikian, mereka harus mampu bersikap tabah dan berhati-hati jika ingin melihat keberhasilan ide-ide mereka yang besar. Masalahnya, meskipun kalangan ini cenderung berpandangan luas, mereka sering terjerumus dalam pernik-pernik kehidupan sehari-hari. Mereka termasuk tipe yang selalu membutuhkan pujian. Namun, kemungkinan dukungan tidak terlalu sulit diperolehnya, sebab mereka biasanya dikelilingi oleh banyak teman (kelompok ini terkenal memiliki kemampuan bergaul yang luar biasa). Sementara itu timbul pertanyaan; benarkah hanya keinginan untuk membantu ataukah dorongan tersembunyi untuk menguasai lingkungannya yang selalu membuat mereka mencampuri urusan orang lain?


Jumat Pahing

Pada dasarnya, anda adalah pembicara yang menyenangkan dengan cita-cita tinggi dan hati yang jujur. Apalah artinya jika anda bersikap sedikit boros! Anda bakal memperoleh banyak poin dari mereka yang ingin melihat anda berhasil -- bahkan jika anda tidak selalu memanjakan mereka. Anda kelihatan begitu mudah dimanfaatkan sehingga orang tidak akan menyangka bahwa anda akan mampu bersikap gigih (baca: keras kepala?) atau menduga betapa ganasnya anda bila sedang mengalami hari yang menjengkelkan!


Nah... Aku adalah keduanya, tapi ada saat tertentu mereka menjadi dominan dan memisahkan diri. Terutama saat depresi, frustasi, distorsi. Aku ga tau, ini nyata apa tidak, dalam beberapa situasi, 2 orang ini berdialog dipikiranku, meminta pendapatku, demikian sebaliknya. Kadang senang rasanya jika mereka muncul, kadang sebal karena tidak diharapkan, malah mengambil alih dan menghancurkan reputasiku , dan aku yang menanggung akibatnya.


Jadi begitulah sebagian latar belakang ketidakjelasan prilaku ini.

Kamis, 18 Desember 2008

Wira ing Sapi Koening


Akhirnya, kami coba juga untuk menulis sesuatu dan di post kan di blog. Aku pernah bertanya sama seorang teman, sebut saja si AA, mengenai nge-blog. Dia bilang, coba aja bikin di sini ato di situ, tapi pada kenyataannya aku malu kalo menggunakan nama asli. So… bagaimana untuk memulai? Pakai nama samaran? Hmm, ya betul pake nama samaran. Cuman nama apa yang bagus ya? Bagus tidak harus keren, menjual, tapi bagus menurutku itu yang bisa menjiwai apa yang mau ditulis. Konyol pun tak apa.
Alhasil, dia malah kasi alternatif nama: Panda Imut. Ntar dikira cewe? Pake imut-imut segala. Okelah aku gendut dan ada cekungan hitam di mata (susah tidur) seperti si Pho Panda di film Kung Fu Panda. Tapi beban mental rasanya jika menyandang nama yang nyerempet tenar seperti itu. Aku takutnya nanti malah kesulitan untuk menulis yang sebebas-bebasnya ngikutin alam liar pikiranku dan 2dua orang saudara kembarku hehehheheh.

Nama yang tidak menjual, mungkin aneh untuk sebagian orang. Aku memilih Sapi Koening sebagai nama samaran. Kenapa harus Sapi? Tanya si AA. Yep… Karena, ternyata dari kecil aku memiliki sifat-sifat sapi, dan ada keterikatan sama sapi. Terlahir di akhir april, pada tahun ayam, aku berarti masuk ke dalam golongan orang yang berzodiak Taurus. Lambangnya adalah lembu jantan. Lembu Jantan terlalu keren bagiku.. toh sama-sama bangsa sapi juga…
Mari kita bahas…. yuk

Sapi, menurut akte kelahirannya di Animal Kingdom dia bernama Bos Taurus. Cocok kan? Pak Linnaeus menetapkan nama ini pada tahun 1758 yang lalu. Sapi adalah hewan
ternak dari familia Bovidae dan subfamilia Bovinae. Selain dipelihara untuk bercocok tanah (menarik bajak, dan lain-lain), sapi juga diambil susu dan dagingnya. Sangat bermanfaat kan? Kotorannya pun masih bisa dimanfaatkan, sebagai pupuk tanaman, bahkan jadi bahan perkerasan lantai rumah di Desa Sade, suku Sasak-Pulau Lombok.
Secara mitologi, spesies ini juga punya peran, misalnya di India, Lembu, menjadi hewan yang dikeramatkan. Di Solo, Kerbau Putih yang masih termasuk keluarga Bovidae tapi punya nama Buballus, yang Albino, menjadi hewan yang juga dikeramatkan, kita kenal dengan nama Kyai Slamet.Di Yunani juga ada, wah banyak deh…

Tapi kalo disuruh pilih binatang favorit, sebenernya aku lebih suka Harimau Putih. Ada kesan magis di dalamnya. Saudara kembarku pun setuju. Hanya saja, setelah dipikir2, kok terlalu keren ya. Takut jadi beban. Ya sudah, sapi pun cukup keren menurutku. Aku pernah baca, kalo sapi selalu dapat menentukan arah kutub bumi. Di bawah kesadaran mereka, posisi tubuh akan diposisikan membujur utara-selatan. Hebat kan? Kesimpulan awal, sapi selalu bisa menentukan arah. Makanya mereka selalu dapat pulang ke rumah. Selalu tahu apa yang harus dilakukan, walaupun sederhana, karena otak mereka tidak mampu menyelesaikan yang rumit, tapi mau berusaha dan bekerja keras Biar lamban, tapi pasti. Santai tapi nyampai. Aku banget kan? Hehehhehe… Aku suka sapi.

Sekarang membahas “Koening”. Si AA bilang kenapa tidak emas? Ku bilang emas terlalu luxurious. Ga bersahaja. Karena sapi itu sifatnya ga mau banyak gerak. Duduk, mojok, mengunyah… seperti daun yang diam saja, menua, menguning… ga ada hubungannya ya.
Kuning artinya bisa tua, kotor, pengecut, cerdas, intelektual, masih muda, layu, segar, cahaya, energi.. tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Aku paling suka mikir kaya gitu. Bagaimana jika ini dilihat dari sudut pandang yang lain ya? Ternyata menyenangkan…
Jadi, Sapi Koening, mungkin bisa menjadi suatu metafora baru, seperti yang Kambing Hitam misalnya. Heheheheh…

Wira Ing Sapi Koening, artinya adalah; menjadi kesatria yang memiliki karakter sapi koening… Tambah ga jelas kan? Pokoknya, dengan tulisan ini, setidaknya udah membuat kami berani mencoba menulis. Kami ngga perduli kualitasnya bagaimana? Pokoknya tulis saja dulu. Wajar jika norak, wajar jika ngawur, namanya juga masih pemula. Yang jangan sampai hilang, keinginan menulis ini. Banyak penulis yang mengatakan bahwa, kesulitan menulis itu ada pada awalnya. Let see………..

Start…!!!!