
Dua tahun yang lalu aku datang ke kota ini untuk menyelesaikan kuliahku. Layla lebih dulu datang ke sini. Dia sudah menentukan kuliahnya sebelum aku. Aku hanya mengandalkan hasil UMPTN. Tidak ada cadangan lain. Hanya kota ini. Jogjakarta, kota berkumpulnya para pelajar dari seluruh pelosok negeri ini.
Aku masih ingat, kami sempat berkirim surat sebelum kedatanganku ke kota ini. Sehari setelah kelulusan SMA, aku main ke rumahnya. Membawakan tempat pensil yang aku buat sendiri. Aku buat saat selesai ujian akhir, untuk mengisi waktu. Aku menanyakan apakah dia menyukai bersurat? Ternyata dia sangat suka berkorespondensi, hanya saja belum ada yang harus dia kirimi surat.
“Kamu bisa bersurat-suratan denganku” tawarku.
“Sungguh?” sahutnya.
“Ya… Kalau sudah dapat kos, kabari aku ya”
Pada saat itu, teknologi telpon selular masih sangat mahal. Internet pun jarang.
Aku tidak tahu persis apa yang sedang ada dianganku saat itu. Yang aku tahu, aku berusaha untuk meminta maaf atas kenakalan-kenakalan dan keisenganku dulu, yang pasti telah menggores hatinya. Yang aku inginkan pada saat itu adalah tatapan mata yang sudah memaafkan aku, yang belum aku dapatkan sampai saat ini.
Suratnya datang. Dia menceritakan suasana kota Jogja, kegiatan bimbingan belajarnya, lingkungan kos-kosannya, dan dorongan semangat buatku untuk ke sana.
“Aku akan ke kota tempat dirimu berada” Tekadku dalam hati.
Dia mendaftar di kota Jogja dan Malang. Begitu juga aku. Dia mendaftar universitas swasta terkenal di jogja. Aku tidak. Perekonomian keluargaku terbatas. Hanya UMPTN, ya, itu saja.
Aku diterima di PTN di Jogja, dia di PTS. Saat aku sampai di Jogja, dia sudah pindah, dan belum sempat mengabari. Semester pertama, aku disibukkan dengan persiapan dan adaptasi dunia perkuliahan. Terlena disuasana dan teman baru, lingkungan baru, kabar darinya semakin lama hilang begitu saja. Teman-temanku juga tidak tahu dia persisnya ada di mana. Hanya ada kabar tidak jelas dia di daerah sini, pernah liat di situ, dan berbagai informasi yang memusingkan lainnya. Walau pelan, aku masih terus mencarinya.
Sampai hari pada suatu siang, Pungky, temen kos ku, mengatakan pernah melihat Layla di dekat jalan Gejayan. Melintas menyeberangi jalan, masuk tempat kursus komputer. Kuminta Pungky untuk mengantarkanku ke sana. Dan setelah ku bertanya, basa-basi untuk mencari tahu. Satu jam lagi peserta kursus akan keluar. Aku dan Pungky menunggu di dekat tukang gorengan. Satu jam kemudian, kulihat Layla dan satu orang temannya menuju parkiran motor. Tergopoh-gopog ku hampiri dan kusapa.
“Layla? Lama nggak ketemu, gemukan ya. Kamu kos dimana sih? Kok ngga ngasi kabar?” tanyaku langsung. Inilah suatu bentuk kebodohan laki-laki. Tidak pandai menggunakan kata-kata yang menyenangkan hati. Selanjutnya adalah pandangan melotot seakan tidak percaya dan aksi tutup mulut darinya.
“Guoblog banget sih?!!!” umpat Pungky padaku setelah Layla dan teman pergi meninggalkan kami.
Aku masih bengong. Sampai akhirnya Pungky menyuruhku cepat naik ke motornya.
“WOIII!!! Ntar keburu ilang!!! Buruan naik!!!” serunya.
Aku tergagap dan segera naik ke boncengannya.
“Nguber nya kemana Pung?” tanyaku bego.
Pungky diam saja sambil melajukan motornya ke sebuah belokan. Beberapa saat kemudian kami melihat motor tumpangan layla dan temannya beberapa puluh meter didepan.
“Sudah, diam saja, pokoknya ikuti.” Kata Pungky memotong niatku untuk memerintahkan mengejar. Aku pun menurut. Pikiranku melayang kesana kemari bertanya-tanya mengapa Layla tidak berkomentar sedikitpun tadi. Aku harus mencari cara lain untuk menghubungi dia.
Motor itu berhenti di depan sebuah rumah yang dipenuhi tanaman hias. Menurutku itu lebih tepat jika dikatakan sebagai hutan kecil. Tanaman hias dari berbagai ukuran ada di situ. Rumah itu terletak di tepi Jalan Kaliurang. Dengan pagar setinggi pinggang, aku bisa melihat Layla berbicara dengan temannya, mengucapkan sesuatu yang sepertinya memiliki arti “OK makasih ya, sampai besok.” Aku dan pungki masih mengamati dari jauh, sementara si teman meninggalkan Layla. Dia tidak masuk ke dalam rumah, melainkan menyeberang, memasuki sebuah warnet. Aku dan Pungky berpandangan.
“Kamu bener Pung, aku emang guoblog. Kan aku bisa lewat internet menghubungio dia” Kataku sambil nyengir.
“Dan memang masih goblog!!! Emangnya kamu tau emailnya?” jawab Pungky meremehkan.
Pungky benar, aku tidak punya alamat emailnya. Tapi aku pernah tahu, kalo Layla menyukai sebuah nickname. Masih ada harapan pikirku.
“Temanku yang goblog tersayang, aku kasi saran ya… Mending kamu nguntit terus, jadi tau dia ngapain aja, kemana aja, jam sela nya jam berapa. Bolehlah kirimi email untung-untungan, dengan domain yang biasa orang pakai. Kali aja ada yang masuk beneran. Aku mau balik ke kos, laper.” ceramah Pungky padaku.
Malamnya aku ke warnet. Pertama-tama yang aku lakukan adalah membuka email untuk mengirim email ke alamat el-lail@domainapasaja.com.
“Mudah-mudahan bisa….” Doaku sambil menggosok-gosok telapak tangan dengan cemas.
New Inbox ku sudah ribuan karena aku sudah lama tidak membua email. Malas membacanya. Ingin rasanya langsung men-delete dan meng-compose. Tapi apa salahnya ditengokin dulu. Ku klik tulisan inbox, dan seluruh layar inbox isinya masih dalam bold marking. Kebanyakan dari promosi-promosi ga jelas. Eiitt…sebentar. Mataku tiba-tiba terpaku ke sebuah mail yang masuk. Dari Layla, aku langsung ber yes-yes dengan gaya mengokang kepalan ke pinggang beberapa kali. Boleh jadi aku sangat ke ge-er an karena mendapat email darinya.
Kulihat dia mengirimkan pada saat sekitar dia ke warnet tadi. Berarti dia langsung mengabariku? Mari kita baca isinya.
Mho, maaf lama tidak kasi kabar kalo aku pindah kos. Aku disuruh pindah ke tempat yang baru, biar deket dengan kos-kosan abangku. Soalnya Papa n Mama pinginnya begitu.
Mho, kamu jangan berpikir kalo abangku yang melarang aku ngasi tau ke kamu. Dia aja ngga tau kalo kamu juga di Jogja. Aku memang ngga ngasi tau dia.
Sebenarnya ada alasan lain yang bikin aku pindah kos dan aku belum mau kamu tau. Aku memang pingin menghindar dulu. Dari siapa pun. Temen-temen SMA yang di Jogja juga tidak aku kasi tau. Ini memang keinginanku. Biarin aja aku seperti ini dulu Mho.
Maaf.
El-lail
“Ada yang tidak beres. Pasti telah terjadi sesuatu pada dirinya. Duuh..gimana ya. Dan, darimana pula dia tahu alamat emailku?” pikirku buntu. Sepertinya aku perlu menjalankan usul Pungky.
Jam 6 pagi keesokan harinya, aku sudah nongkrong di tepi Jalan Kaliurang, berbekal hardboard, kertas dengan kolom-kolom, pulpen, counter, handuk, topi, kacamata hitam, botol minuman, sebungkus rokok dan beberapa lembar Koran untuk alas duduk. Hardboard dan kertas berkolom itu adalah sisa perlengkapanku sewaktu menjadi counting-surveyor kendaraan di jalan raya bulan lalu. Kerja sambilan yang menjanjikan. Hanya bermodalkan kuat bengong selama 8 jam dan koordinasi anggota tubuh yang mumpuni. Mata melihat kendaraan yang lewat, dikirimkan ke otak, diklasifikasi dan dihitung, berdasarkan tipe kendaraan, ditransfer ke ujung jempol tangan kiri dan kanan untuk menekan tombol counter. Dibayar dengan jumlah yang lumayan, cukup untuk hiburan. Nah dengan kamuflase ini, aku mengambil sejarak 50 m. Aku menjalani cara ini di dekat kosnya dan kampusnya. Dan yang berhasil kusimpulkan, dia berangkat ke kampus jam 9 pagi, pulang langsung kursus, dan sudah ada di kos, sebelum jam 5 sore. Sabtu dan minggu, dia didatangi abangnya pada pagi dan malam hari. Ternyata Layla memang ke warnet setiap pulang kursus.
“Wah…udah bikin aku kege-eran…” pikirku malu.
Satu setengah minggu mengamati, aku ke warnet, untuk mencoba memberanikan diri untuk mengiriminya email. Aku bertanya basa-basi mengenai hari-harinya, kegiatannya, tanpa menyinggung isi email dia yang sebelumnya. Dan dia menanggapinya dengan senang. Dari email-email itu aku jadi tahu kalo aku begitu bodoh. Dia dapat mengetahui emailku dengan men-search namaku di website kampusku. Disitu lengkap tertulis nama, fakultas-jurusan, nomor induk, dan emailku. (Hiks bodohnya). Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertemu. Caranya adalah berpura-pura main ke warnet yang biasa dia datangi. Kira-kira di jam yang sama dengannya. Rencana itu berjalan mulus. Aku membuat seolah-olah tidak sengaja bertemu dengannya di situ.
“Loh…Layla? Sering main di sini tho?” sapaku.
“Mho? Kok sampai kemari ngenetnya?” jawabnya kaget, tapi dengan ekspresi yang menyenangkan untuk dipandang.
“Mau pulang?” tanyaku.
“Hmmm…iya. Kamu mau kemana?”
“Ga tau ya, mungkin ke toko buku, cari-cari bacaan. Mau ikut?” tawarku taktis, karena ajakan ini pasti sulit ditolaknya. Dia begitu suka buku.
“Hmmmm….gimana ya…udah sore.”
“Masa sih? Ada acara lagi? Aku anterin tepat waktu deh, janji.”
“Ngga ada sih, tapi…. Hmmm….emangnya kamu bawa helm dua?” dia mulai tergoda ajakanku.
“Helm mah gampang. Ntar mampir kos ku.” Jawabku
“Ngga usah, di kos ku aja, deket kok. Tuh diseberang.” Tukasnya cepat.
Sejak saat itu aku semakin sering email-emailan, dan main ke kosannya. Pergi bersamanya untuk mencari buku, melihat-lihat pameran, jajan bareng (satu mangkuk salad berdua tak akan ku lupa). Tetap di dalam margin waktu yang telah aku teliti. Sesaat kurasa dia terlupa dengan hal yang mengganggunya dulu. Hal yang membuat aku terus penasaran. Dan sesaat aku pernah menemukan pandangannya sedang termenung. Seperti perasaan bersalah menurutku.
Tiba-tiba dia tidak ingin ditemui lagi. Dia menelpon kos ku dan mengatakan padaku bahwa dia sedang tidak ingin ditemui lagi untuk sementara. Aku langsung menuju ke kosnya. Dia tidak ada. Aku datangi lagi beberapa jam kemudian, masih tidak ada. Malam hari, esoknya, esoknya lagi, masih tidak ada. Email-emailnya? Kosong. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Debby teman kos nya yang memang hanya satu-satunya.
“Layla, sedang bingung. Di kampus, dia ditaksir sama seseorang. Sangat tergila-gila padanya. Tapi dengan cara yang mengganggu. Layla pun takut. Aku teman sekamarnya dari awal kuliah. Akupun ikut pindah ke sini, karena kasian kalau dia sendirian.” Si teman kos menjelaskan padaku.
“Abangnya kemana?” tanyaku singkat.
“Aku tau maksudmu. Mengapa abangnya tidak melakukan sesuatu? Aku juga tidak tahu. Sepertinya abangnya punya masalah dengan cowok tadi. Dan entah kenapa abangnya kok seperti tidak berkutik. Yang dia coba lakukan adalah memindahkan kos adiknya ke sini, dekat dengan kosan dia.” Jawab Debby.
“Layla cukup senang saat bersamamu akhir-akhir ini. Tapi untuk perasaan dia yang sesungguhnya aku pun tidak tahu. “lanjutnya.
“Maksudnya?” tanyaku tidak paham.
“Layla beberapa waktu lalu bercerita mengenai seorang cowo. Yang mungkin pernah dekat dengannya. Sekarang cowo itu di Surabaya. Sepertinya kalian dulu dari kota yang sama deh.” Debby menjelaskan.
“Hmmm… ada hubungannya dengan hilangnya Layla?” tanyaku lagi
Kesimpulannya, Layla akan ke Surabaya sekaligus menengok adiknya yang baru masuk kuliah. Dan Debby tidak tahu kapan persisnya Layla akan berangkat. Larut Malam, setibanya dikos, sepulang aku memasang spanduk dan menempel poster (uang tambahan lainnya) aku mendapat pesan yang tertempel di pintu kamar.
“Mho, dicariin Layla. Katanya ada yang mau dijelasin sama dia. Mending buruan temui dia deh” ini tulisan Pungky.
Aku langsung membangunkan Pungky di kamar sebelah. Dia menjelaskan kalau tadi sore Layla menelpon, dan mencariku. Dia ingin aku ke kos nya malam ini. “Dari nada suaranya sepertinya bingung Mho” hasut Pungky.
“Sekarang sudah jam setengah 12, mana boleh bertamu” aku bingung
“Besok pagi-pagi, ke kos nya aja. Kalo jam tujuh kayaknya gapapa deh.”saran Pungky.
Aku tidak bisa tidur. Kepalaku pusing, dan badanku sedikit demam. Aku harus minum obat….
Pagi harinya, aku bangun jam hampir jam tujuh. Aku langsung berlari ke kamar mandi.
“Hadimin……….!!!! Buruan woiii….!!!! Kaya cewek mandinya?” teriakku kesal didepan pintu.
Hanya cuci muka dan gosok gigi aku berangkat menuju ke kos Layla. Setibanya di sana, aku bertemu Debby. Dia mengatakan kalau Layla baru saja berangkat. Layla kecewa dan sedih padaku karena tidak menemuinya tadi malam. Debby mengatakan Layla naik kereta ekonomi, yang berarti adalah stasiun lempuyangan. Aku langsung pamitan dan ngebut menuju stasiun Lempuyangan. Berharap ada kesempatan untuk bertemu.
Loket lempuyangan tidak penuh, tapi cukup panjang antriannya. Dari atas motor, kulihat Layla sedang antri di urutan ke tiga. “Hore!!!!” hatiku girang. Aku segera memarkirkan motorku dan menuju ke pintu masuk. Sial, aku dilarang masuk, harus membeli tiket masuk terlebih dahulu. Setelah berhasil masuk, aku mencari-cari Layla. Kulihat kereta sudah siap berangkat. Jadwal menunjukkan akan berangkat 2 menit lagi. Aku mencoba menyisir per gerbong. Berharap akan menemukan dirinya. Pengumuman pemberangkatan kereta berbunyi. Aku ingin nekat, ikut kereta ini. Tapi aku ingat kalau uang di dompetku semalam tinggal Rp. 16.000. Tiket masuk Rp.500. Sedangkan tiket ke Surabaya adalah 16.000. Kalau aku tanpa tiket bisa dua kali lipat. Kereta terasa mulai bergerak. Aku pun turun. Memandangi gerbong-gerbong yang perlahan satu per satu melintasiku. Jendela gerbong terakhir kulihat sosok yang kukenal. Semakin dekat, semakin yakin bahwa itu adalah Layla. Ketika tepat melintas dihadapanku, dia mengalihkan pandangannya, seakan-akan aku tidak disitu. Aku hanya bisa menunduk lemas, menatap tiket masukku tadi. Kulihat tanggalnya. Hari ini adalah hari ulang tahunnya.

