Sakit ingatan, tidak waras, atau lebih sering kita kenal dengan sebutan gila, penyebabnya bermacam-macam. Trauma berat atau tekanan mental yang berlebihan biasanya menjadi penyebab mayoritas kegilaan pada diri seseorang. Ceritaku kali ini tentang salah satu pengalamanku berinteraksi dengan orang gila.
Namanya Ajumbae. Pemuda berusia 20-an dengan postur tubuh tinggi, berkulit hitam terpanggang sinar matahari, dengan rambut yang seperti paku, tumbuh dengan panjang yang sama dikepalanya, membuat bentuk bundar seperti bunga rumput. Kesenangannya duduk di ujung gang, tepi jalan. Sambil berseru-seru dengan semangat ke anak-anak sekolah menyuruh kami untuk rajin belajar. Tapi biasanya seruan itu diakhiri dengan tangisan tersedu-sedu.
Namanya Ajumbae. Pemuda berusia 20-an dengan postur tubuh tinggi, berkulit hitam terpanggang sinar matahari, dengan rambut yang seperti paku, tumbuh dengan panjang yang sama dikepalanya, membuat bentuk bundar seperti bunga rumput. Kesenangannya duduk di ujung gang, tepi jalan. Sambil berseru-seru dengan semangat ke anak-anak sekolah menyuruh kami untuk rajin belajar. Tapi biasanya seruan itu diakhiri dengan tangisan tersedu-sedu.
Namanya juga anak-anak, termasuk aku, suka menggodanya. Dengan mendekatinya, kemudian memanggil namanya, trus kabur sambil tertawa-tawa setelah dia menoleh ke arah kami. Biasanya kami melakukan sambil berkelompok. Kalau sendirian mana berani. Waktu itu aku kelas 1 SD. Pulang sekolah, sekitar jam 10 pagi. Pulang seperti biasa, setengah berlari, agar cepat sampai rumah, ganti baju, dan pergi main lagi. Kulihat Ajumbae sedang terpekur di ujung jalan. Sifat tak terpujiku timbul. Kudekati dan ku kagetkan.
“WAAAAAAAAAAAAAAAAA….” Kuteriakkan keras-keras ke telinganya.
Dia terbangun kaget setengah mati, menatapku dan …. Hup!!!! Tangannya mencengkeram pergelangan tanganku.
Aku panik, cengkeramannya sangat kuat, aku tak bisa melepaskan diri. Ku pukul, ku tendang, ku cakar, dia tidak bergeming, hanya tertawa terkekeh sambil mengupil puas.
Aku menangis sejadi-jadinya. Dia seakan-akan menikmati nyanyian merdu dariku. Tersenyum-senyum dan tertidur lagi. Ya benar… dengan tangan yang mencengkeram erat pergelangan tanganku.
Dua jam aku tersedu-sedu. Ujung jalan yang sepi, jarang sekali ada yang lewat. Sampai akhirnya, sebut saja Pak Nama, tetanggaku, lewat, dan mendekati kami. Ajumbae dibangunkannya. Ajumbae terbangun dan tersenyum.
“Sudah…lepas…lepas ya…” kata Pak Nama.
“Belajar…belajar…dia nakal….” Jawab Ajumbae sambil terkekeh-kekeh menatapku. Aku yang sudah lelah menangis, diam saja.
“Iya, sekarang sudah siang, dia mau belajar lagi.” Lanjut Pak Nama.
Aku dilepaskan, dan dia beranjak lalu jalan lagi berkeliling kampung, mencari tempat tidur yang lain.
“Belajar…!!!! Jangan lupa belajar!!!!” teriak dia saat menoleh ke arah kami.
Pak Nama mengantarkan aku sampai ke depan rumah. Rumahku masih kosong, karena Ibuku baru pulang jam 1 siang. Saat ibuku tahu, dia malah menertawakan aku dan mensyukuri kejadian ini.
“Makanya, jangan suka iseng!!!” pesan ibuku sambil tertawa lagi.
Ibuku bercerita kalau Ajumbae itu dulunya calon dokter. Tapi jadi dokter karena dipaksa kedua orang tuanya dan juga dokter. Tidak kuat menahan stress, dia menjadi gila. Dan selalu mengulang kata-kata orang tuanya padanya…
“Belajar…!!!! Jangan lupa belajar!!!!”
“WAAAAAAAAAAAAAAAAA….” Kuteriakkan keras-keras ke telinganya.
Dia terbangun kaget setengah mati, menatapku dan …. Hup!!!! Tangannya mencengkeram pergelangan tanganku.
Aku panik, cengkeramannya sangat kuat, aku tak bisa melepaskan diri. Ku pukul, ku tendang, ku cakar, dia tidak bergeming, hanya tertawa terkekeh sambil mengupil puas.
Aku menangis sejadi-jadinya. Dia seakan-akan menikmati nyanyian merdu dariku. Tersenyum-senyum dan tertidur lagi. Ya benar… dengan tangan yang mencengkeram erat pergelangan tanganku.
Dua jam aku tersedu-sedu. Ujung jalan yang sepi, jarang sekali ada yang lewat. Sampai akhirnya, sebut saja Pak Nama, tetanggaku, lewat, dan mendekati kami. Ajumbae dibangunkannya. Ajumbae terbangun dan tersenyum.
“Sudah…lepas…lepas ya…” kata Pak Nama.
“Belajar…belajar…dia nakal….” Jawab Ajumbae sambil terkekeh-kekeh menatapku. Aku yang sudah lelah menangis, diam saja.
“Iya, sekarang sudah siang, dia mau belajar lagi.” Lanjut Pak Nama.
Aku dilepaskan, dan dia beranjak lalu jalan lagi berkeliling kampung, mencari tempat tidur yang lain.
“Belajar…!!!! Jangan lupa belajar!!!!” teriak dia saat menoleh ke arah kami.
Pak Nama mengantarkan aku sampai ke depan rumah. Rumahku masih kosong, karena Ibuku baru pulang jam 1 siang. Saat ibuku tahu, dia malah menertawakan aku dan mensyukuri kejadian ini.
“Makanya, jangan suka iseng!!!” pesan ibuku sambil tertawa lagi.
Ibuku bercerita kalau Ajumbae itu dulunya calon dokter. Tapi jadi dokter karena dipaksa kedua orang tuanya dan juga dokter. Tidak kuat menahan stress, dia menjadi gila. Dan selalu mengulang kata-kata orang tuanya padanya…
“Belajar…!!!! Jangan lupa belajar!!!!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar