Samar-samar kulihat sosok itu berdiri diujung tangga. Hanya diam, tidak melakukan apa-apa, hanya diam. Pandanganku masih samar. Kukejap-kejapkan mataku agar dapat melihat lebih jelas….
Bogor, kota hujan, kota sejuk dan menyenangkan. Di kota itu aku bekerja dibidang konstruksi, merenovasi sebuah gedung Bank Swasta, berupa bangunan berlantai tiga. Bertugas untuk mengawasi semua kegiatan konstruksi yang sedang berlangsung. Di Bogor, aku tidak punya kenalan siapa-siapa. Pada awalnya aku berencana untuk mencari kontrakan untuk tinggal sementara. Tapi, karena pertimbangan efisiensi dan penghematan biaya hidup, aku memilih untuk tinggal di gedung itu saja.
Kegiatan proyek berlangsung pada malam hari. Setelah Bank tutup, para pekerja bersiap-siap untuk melakukan aktivitasnya. Aku mengamati seluruh isi bangunan, yang ternyata masih baru, direnovasi karena ingin distandarisasi oleh pemilik Bank. Lantai 1 adalah untuk kegiatan nasabah rutin, yang berisi beberapa meja teller , ruang brankas, meja satpam, kursi tunggu antrian dan ATM. Lantai 2 adalah kegiatan manajerial Bank itu. Isinya adalah beberapa ruang kerja kepala cabang dan beebrapa meja kerja, serta toilet. Aku melanjutkan ke lantai 3, isinya adalah tumpukan berkas, beberapa meja yang terbalik, pembatas antrian, satu buah rak, dan beberapa kardus. Ada tempat kosong didekat jendela, diantara tumpukan berkas dan dinding.
“Perfect!!” kataku dalam hati.
Aku memutuskan untuk tidur di lantai 3. Aku bisa menambahkan beberapa lapisan kardus, meletakkan ranselku di rak, menjadi bantal jika perlu. Mandi pun bukan masalah, di lantai 3 juga ada toilet yang sering dipakai oleh satpam dan office boy. Pihak Bank pun tidak bermasalah jika aku numpang tidur disitu.
Lantai paling atas hanya berisi Genset, reservoir, dan lahan kecil untuk jemuran.
Sampai hari ketiga, belum ada kegiatan proyek yang berarti. Semua masih persiapan. Mobilisasi material, pengukuran dan identifikasi masalah, dan koordinasi dengan lingkungan setempat. Boleh dibilang, aku masih santai. Dan kesempatan ini aku pakai untuk menelusuri kota Bogor dengan berjalan kaki, dari satu sudut ke sudut yang lain. Berangkat meninggalkan gedung sejak jam 6 pagi dan kembali pada jam 6 sore, menjelang magrib.
Belum sampai tengah malam, semua pekerjaanku sudah selesai. Badanku penat, letih banget rasanya. Ingin segera tidur. Jam 11 malam, satpam mengunci pintu utama dan menuju peraduannya di kursi tunggu. Aku berpamitan untuk tidur dan naik ke lantai 3. Menghempaskan diri dihamparan dua lapis kardus, aku langsung tertidur.
Dalam tidurku aku mendengar ada suara orang yang sedang besenandung. Suaranya merdu, dan sepertinya sedang menyenandungkan lagu Sunda. Suara perempuan yang begitu lembut, lirih tapi menentramkan. Senandung itu semakin jelas ditelingaku. Aku membuka mata perlahan…dan senandung itu pun terhenti. Samar-samar kulihat sosok itu berdiri diujung tangga. Hanya diam, tidak melakukan apa-apa, hanya diam. Pandanganku masih samar. Kukejap-kejapkan mataku agar dapat melihat lebih jelas. Sosok yang tampak olehku adalah seorang perempuan yang mengenakan kebaya putih, berjarik panjang coklat tua dengan motif batik, bergelang selendang yang juga putih. Rambutnya dikombinasi antara sanggul dan geraian. Sederhana, tapi tetap anggun dan cantik. Perlahan, sosok itu mendekat dan duduk diatas ujung kakiku. Anehnya aku tidak merasakan apapun. Wajahnya menjadi lebih jelas sekarang. Oval, dengan alis tebal, mata bulat, bulu mata lentik, hidung mancung mungil, bibir yang juga mungil dalam kondisi tersenyum diatas dagu tirus membundar. Kuperhatikan, kulitnya putih bersinar, tapi sedikit tidak wajar. Berpendar dan setelah kuperhatikan memang transaparan. Aku dapat memandang bayangan samar-samar reling tangga dibelakangnya. Bulu kudukku merinding dan mencoba untuk bangun.
“Sudah, berbaring saja. Aku cuma sebentar.” Katanya sambil menahan bahuku dengan salah satu tangannya.
Aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Takut, tapi tertentramkan oleh aroma wangi bunga yang belum pernah aku temui.
“Wilujeng sumping, akang.” lanjutnya sambil tersenyum manis dan kemudian hilang dengan segala pesonanya.
Aku masih terbengong-bengong kebingungan dan mencari-cari kemana gerangan perempuan tadi. Kulihat jam di hape ku, masih jam 00.15. Masih ada 5 jam lagi waktuku untuk istirahat disini. Kedengar hujan turun lagi. Kualihkan pandangan ke arah jendela, nampak tetes-tetes air yang terkena sinar lampu di atap gedung.
“Bogor, kota hujan, dengan sambutanmu tadi, aku bakal betah di sini.” Kataku dalam hati.
Bogor, kota hujan, kota sejuk dan menyenangkan. Di kota itu aku bekerja dibidang konstruksi, merenovasi sebuah gedung Bank Swasta, berupa bangunan berlantai tiga. Bertugas untuk mengawasi semua kegiatan konstruksi yang sedang berlangsung. Di Bogor, aku tidak punya kenalan siapa-siapa. Pada awalnya aku berencana untuk mencari kontrakan untuk tinggal sementara. Tapi, karena pertimbangan efisiensi dan penghematan biaya hidup, aku memilih untuk tinggal di gedung itu saja.
Kegiatan proyek berlangsung pada malam hari. Setelah Bank tutup, para pekerja bersiap-siap untuk melakukan aktivitasnya. Aku mengamati seluruh isi bangunan, yang ternyata masih baru, direnovasi karena ingin distandarisasi oleh pemilik Bank. Lantai 1 adalah untuk kegiatan nasabah rutin, yang berisi beberapa meja teller , ruang brankas, meja satpam, kursi tunggu antrian dan ATM. Lantai 2 adalah kegiatan manajerial Bank itu. Isinya adalah beberapa ruang kerja kepala cabang dan beebrapa meja kerja, serta toilet. Aku melanjutkan ke lantai 3, isinya adalah tumpukan berkas, beberapa meja yang terbalik, pembatas antrian, satu buah rak, dan beberapa kardus. Ada tempat kosong didekat jendela, diantara tumpukan berkas dan dinding.
“Perfect!!” kataku dalam hati.
Aku memutuskan untuk tidur di lantai 3. Aku bisa menambahkan beberapa lapisan kardus, meletakkan ranselku di rak, menjadi bantal jika perlu. Mandi pun bukan masalah, di lantai 3 juga ada toilet yang sering dipakai oleh satpam dan office boy. Pihak Bank pun tidak bermasalah jika aku numpang tidur disitu.
Lantai paling atas hanya berisi Genset, reservoir, dan lahan kecil untuk jemuran.
Sampai hari ketiga, belum ada kegiatan proyek yang berarti. Semua masih persiapan. Mobilisasi material, pengukuran dan identifikasi masalah, dan koordinasi dengan lingkungan setempat. Boleh dibilang, aku masih santai. Dan kesempatan ini aku pakai untuk menelusuri kota Bogor dengan berjalan kaki, dari satu sudut ke sudut yang lain. Berangkat meninggalkan gedung sejak jam 6 pagi dan kembali pada jam 6 sore, menjelang magrib.
Belum sampai tengah malam, semua pekerjaanku sudah selesai. Badanku penat, letih banget rasanya. Ingin segera tidur. Jam 11 malam, satpam mengunci pintu utama dan menuju peraduannya di kursi tunggu. Aku berpamitan untuk tidur dan naik ke lantai 3. Menghempaskan diri dihamparan dua lapis kardus, aku langsung tertidur.
Dalam tidurku aku mendengar ada suara orang yang sedang besenandung. Suaranya merdu, dan sepertinya sedang menyenandungkan lagu Sunda. Suara perempuan yang begitu lembut, lirih tapi menentramkan. Senandung itu semakin jelas ditelingaku. Aku membuka mata perlahan…dan senandung itu pun terhenti. Samar-samar kulihat sosok itu berdiri diujung tangga. Hanya diam, tidak melakukan apa-apa, hanya diam. Pandanganku masih samar. Kukejap-kejapkan mataku agar dapat melihat lebih jelas. Sosok yang tampak olehku adalah seorang perempuan yang mengenakan kebaya putih, berjarik panjang coklat tua dengan motif batik, bergelang selendang yang juga putih. Rambutnya dikombinasi antara sanggul dan geraian. Sederhana, tapi tetap anggun dan cantik. Perlahan, sosok itu mendekat dan duduk diatas ujung kakiku. Anehnya aku tidak merasakan apapun. Wajahnya menjadi lebih jelas sekarang. Oval, dengan alis tebal, mata bulat, bulu mata lentik, hidung mancung mungil, bibir yang juga mungil dalam kondisi tersenyum diatas dagu tirus membundar. Kuperhatikan, kulitnya putih bersinar, tapi sedikit tidak wajar. Berpendar dan setelah kuperhatikan memang transaparan. Aku dapat memandang bayangan samar-samar reling tangga dibelakangnya. Bulu kudukku merinding dan mencoba untuk bangun.
“Sudah, berbaring saja. Aku cuma sebentar.” Katanya sambil menahan bahuku dengan salah satu tangannya.
Aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Takut, tapi tertentramkan oleh aroma wangi bunga yang belum pernah aku temui.
“Wilujeng sumping, akang.” lanjutnya sambil tersenyum manis dan kemudian hilang dengan segala pesonanya.
Aku masih terbengong-bengong kebingungan dan mencari-cari kemana gerangan perempuan tadi. Kulihat jam di hape ku, masih jam 00.15. Masih ada 5 jam lagi waktuku untuk istirahat disini. Kedengar hujan turun lagi. Kualihkan pandangan ke arah jendela, nampak tetes-tetes air yang terkena sinar lampu di atap gedung.
“Bogor, kota hujan, dengan sambutanmu tadi, aku bakal betah di sini.” Kataku dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar