Minggu, 21 Desember 2008

Ranggok


Waktu itu aku berusia 8 tahun. Aku dan Dudi, tetanggaku yang umurnya 1 tahun lebih tua dariku bercerita pernah mendengar suara “erangan” makhluk mitos itu.

“Suaranya seperti induk ayam yang terganggu ketika sedang mengerami telur…” kata Dudi.
“Ngga serem donk…” sahutku.
“Kalau kerasnya seperti corong masjid pas adzan di hutan yang sesepi itu, apa nggak serem?” jawabnya.
“Kalo ngga sendirian, aku berani.”
“Bener? Mau ke sana?”
“Berdua? Besok ya, pulang sekolah, bawa ketapel, bawa minum, aku tunggu di depan Gang.” Sahutku bersemangat.

Dudi, rumahnya di ujung Gang, sedangkan rumahku, no. 3 dari ujung jalan. Jam 1 siang kita bertemu di keesokan harinya. Ketapel sudah dalam genggaman, kerikil bundar sudah memenuhi kantong kain kami masing-masing. Misi siang itu adalah membuktikan keberadaan Ranggok, makhluk yang konon hidup di hutan aren seberang sungai. Orang-orang kampung selalu mengatakan kepada anak-anak mereka untuk jangan sekali-sekali main ke sana. (siapa yang peduli? Hehehhe…)

Perjalanan kami adalah menyeberangi jalan utama, menyusuri jalan kecil menjauhi desa, menuruni tebing sawah yang kira-kira 30 meter tingginya, melewati beberapa pemandian umum, melintasi beberapa petak sawah lagi, kuburan desa yang konon sejak jaman belanda, beberapa petak sawah lagi, sungai dan berakhir di hutan kecil yang mempunyai sekelompok pohon Aren.

Pepohonan yang rapat, gelap, dingin. Padahal saat itu siang hari. Udara terasa berat di hidung, mungkin ini yang namanya udara lembab. Dan kini kami sudah berada di tepi kelompok pohon aren yang memiliki kesan tumbuh membentuk sebuah lingkaran di dalam.

Dudi mendengar suara itu dari posisi tepat dimana dia berdiri sekarang. Tidak ada suara apapun selain angin yang menyusup disela-sela daun.
“Masuk?” bisikku pada Dudi. Dia mengangguk.
Sengaja kami melepas sandal, agar tidak terlalu berisik jika menginjak dedaunan.
Ternyata di dalam, sangat bersih, tidak ada daun yang jatuh. Tanah berwarna coklat kehijauan, dingin, dengan disinari cahaya temaram dari sela-sela daun. Tidak seperti yang dikatakan orang-orang, disini suasana sangat nyaman. Udara tidak selembab yang di awal tadi.

Tiba-tiba jantungku hampir copot, karena Dudi mencengkeram bahuku dengan keras. Rupanya saat dia melihat ke atas, disaat aku sedang melihat berkeliling, dia melihat sosok aneh itu. Aku mendongak ke atas, terkesiap, dan mau kencing rasanya. Tapi rasa ingin tahu kami, lebih besar dari rasa ingin kabur. Kami berhimpitan, melangkah pelan, menuju ke salah satu pohon, mencoba melihat lebih jelas. Sambil menahan napas dan kencing secara bersamaan, kami memfokuskan pandangan kami. Sebuah paha dan betis tertekuk berwarna hijau kehitaman (atau hitam kehijauan aku ga tau pasti), menghimpit batang aren. Setiap pohon ternyata ada dua sosok. Lengan kecil yang mendekap, tapi kami belum bisa melihat wajah mereka seperti apa.

“Mereka lagi tidur….” Kata Dudi.
“KROOOOOOORRKKK………………!!!!” tiba-tiba wajah itu berpaling dan bersuara.

Aku kencing seketika…. Dudi berteriak histeris (dia ternyata juga kencing di celana). Wajah itu, memiliki paruh kuning gelap kehitaman. Mata bulat berwarna kuning, aku yakin, itu pasti sebangsa unggas. Unggas yang besar, yang kuperkirakan sebesar tubuh anak-anak, bergerak, bersuara, yang membangunkan kawanannya. Pohon-pohon aren itu bergoyang dan bersuara gaduh. Kami kaku, tidak tahu akan melakukan apa dalam beberapa mili detik.
“WAAAAA…..” kami lari serabutan sambil berteriak. Terjatuh, bangun, tersungkur lagi. Tapi kami setelah itu kami tersadar, makhluk aneh itu tidak mengejar, hanya berisik saja.

“Sialan…bikin kaget aja” umpatku tersengal-sengal.
“Berani nggak?” Tanya Dudi sambil meloloskan ketapel dari lehernya.
“Hehehehhe…kita balas dendam kencing tadi.” Sambutku bodoh.

Dengan beberapa langkah dan lompatan, kami sudah dibawah kumpulan mereka dalam posisi membidik.

“WUSH…….WUSH….” kerikil bundar menyentuh betis hijau.
“WUSH…….WUSH….” lagi kerikil bundar menembus sekumpulan ranting, yang ternyata itu sarang bagi yang berukuran paling besar. Yang memiliki ukuran dua kali lebih besar, sebesar manusia dewasa.

Makhluk itu mengeluarkan kepalanya dari sarang, yang semakin jelas, sayap dan lengan mereka terpisah.

“KROOOOOORRKKKK…!!!!!”
Makhluk apa ini. Kami sampai sekarang tidak pernah tahu.

Kamipun kencing lagi. Menyesal rasanya. Kaki dan otak sudah langsung paham, tidak perlu koordinasi, tubuh kami langsung melesat kabur. Lari secepat-cepatnya keluar dari hutan. Dengan sekali kepak, mahluk besar itu menyebabkan kawanan yang kecil berloncatan, berputar-putar rendah disekitar pohon aren dan bergegas menuju ke arah kami. Mereka tidak mengejar kami lagi ketika kami sudah ada di tempat yang lebih terang. Apakah mereka sengaja atau karena tidak suka terik sinar matahari? Aku tidak tahu….

Sampai saat ini, Ranggok tetap jadi misteri buatku. Jika aku bertanya sama Dudi, dia seperti tidak ingat apa-apa.

“Jangan kesana, nanti gila” kata Dudi.
“Kamu benar Dudi, antara aku atau kamu yang sekarang sudah gila.” Jawabku dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar