Minggu, 21 Desember 2008

1 vs 10


Pernah berkelahi melawan 10 orang sekaligus? Waktu aku berumur 7 tahun, salah satu hobiku adalah berantem. Menerima tantangan anak mana saja. Yang paling heroik adalah kisah yang satu ini.

Siang itu, aku disuruh ibuku untuk membeli gula dan minyak tanah di warung, dekat lapangan bola kampung. Sambil membawa jerigen minyak tanah dan beberapa lembar ribuan, aku berjalan sambil melihat graffiti-grafiti nakal orang-orang dewasa yang penakut. Isinya tentang ancaman, tantangan, ungkapan cinta pada seseorang bahkam sampai makian kotor. Perbendaharaan kata-kata kotorku kebanyakan dari graffiti ini. Dalam perjalanan pulang, ada yang melempariku dengan batu sambil tertawa-tawa. Dua anak seberang lapangan, rival merebut layangan putus sedang duduk di pagar tanah yang sudah setengah ambruk.
“Bencong, masa anak laki-laki belanja? Bencong!!! Bencong!!” teriak salah satu.
Aku diam saja. Ibuku sudah menunggu.
“Dasar penakut!!! Gendut tapi penakut!!!” seru mereka lagi.
“Eh Monyet…..Ntar aku balik ke sini, ajak teman-temanmu semua. Aku lawan!” tantangku sengit seketika.
Kepalaku panas. Akupun berlari pulang, masuk rumah langsung ke dapur, meletakkan jerigen dan uang kembalian.
“Ehhh…mau kemana lagi?” Ibuku muncul dan bertanya.
“Berkelahi!!” jawabku sambil lari.

Saat aku ke lapangan bola, suasana sudah sepi. Pagar tanah sudah kosong, tidak ada anak-anak tadi berdiri disitu. Kudengar suara cekikikan di balik gundukan pasir. Salah satu dari mereka.
“Kalau Cuma bedua aku nggak takut. Panggil lagi semuanya!!” Tantangku lancang.
“Awas kalau kamu kabur…. Tunggu ya….!!!” Jawab dia sambil berlari menyeberangi lapangan.
Beberapa menit kemudian, datang sepuluh anak dengan ukuran yang beragam. Lima dari mereka adalah kakak beradik. Apa boleh buat pikirku….Maju!!!!
Dengan wajah penuh emosi sepuluh anak itu mengepung dan maju bergantian untuk menendang, memukuliku.
Pukulan pertama, kena di tulang pipi kiriku, sakit. Tendangan selanjutnya dari belakang, membuat kaosku ada cap kaki, lumayan sakit. Sebuah kaki mendarat di kuping kiriku, tidak terasa sakit. Sampai akhirnya aku tidak merasakan pukulan dan tendangan mereka. Yang ada aku hanya menarik tubuh salah satu dari mereka lalu ku hantam. Tarik-hantam, tarik-hantam, tarik-hantam, terus…. Pada saat itu aku merasa nikmatnya sebuah perkelahian. Pukulan mereka hanya menggoyangkan kepala dan badanku, tapi tidak sakit. Ketika salah satu kepala dari mereka sudah berada diperutku dan akan menjadi landasan sikutku, tiba-tiba…
“ADUHH!!!!” aku menjerit.
Kupingku di jewer, dan aku meronta. Ternyata ibuku yang menjewer. Aku ditarik pulang. Ibuku sedih karena ini puncak-puncaknya aku berkelahi. Bajuku kotor minta ampun. Pipiku biru. Rambutku isinya tanah semua. Setelah dimarahi dan diomeli tentang apa pandangan Kepala Kampung terhadapku yang telah menghajar 5 keponakan mereka, rasa sakit mulai menjalar.

Malam harinya Bapak mendapat laporan tentang kejadian siang tadi dari Kepala Kampung. Bapak bilang, laki-laki yang hebat itu bukan yang menang berkelahi. Tapi yang menang terhadap keinginannya untuk menyakiti.
“Adek ikut karate aja ya. Biar energinya tersalurkan dengan benar.” Kata Bapak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar