Kapankah dirimu benar-benar suka dengan seseorang? Kebanyakan saat diusia remaja kan? Disaat kematangan fisik seseorang diiringi dengan rasa kekaguman indah-aneh yang berlebihan terhadap lawan jenis muncul tanpa terkendali.
Seperti kebanyakan remaja laki-laki, mereka tidak tahu persis apa yang mereka dapatkan dan apa yang mereka inginkan. Naik kelas 3 SMP, dan menjadi wakil peserta Jambore, aku terpesona oleh kecantikan pramuka putri dari propinsi Jawa Barat, kontingen Kota Cirebon, . Cantik, putih, rambut dibawah telinga, mata bulat, bibir seksi, pintar, jagoan semaphore dan tali temali. Berkoresponden dengannya selama semester pertama di kelas 3, cukup mengubah perilaku burukku di sekolah. Aku jadi lebih menghargai dan menghormati temen perempuan, suka menolong mereka tanpa imbalan apapun, rajin belajar hingga aku bisa masuk 5 besar pada semester ganjil dan ranking 3 pada semester akhir(semester genap kelas 2 aku rangking 29 weheheheh….) Hebat benar kekuatan cinta. Apa benar itu kekuatan cinta? Menurutku hanya kilauan semu yang akan bertepuk sebelah tangan.
Sampai saat perpisahan pun tiba. Aku jadi panitia perpisahan kelas. Mereka ingin gambar-gambarku dan warna-warniku menghiasi suasana pesta. Yang dengan bodohnya aku jadi terlalu mendominasi (pasti ulah Nopat). Aku mual dengan semua tindak tandukku yang sama sekali bukan aku. Nopat, selalu sok iye dalam segala situasi. Shit…!!!
Minggu pagi, setelah malam perpisahan. Aku ke rumah, hmmm… sebut saja namanya Drupadi. Cewek manis, pipi gembul, berkacamata dan selalu riang gembira. Pokoknya cocok jadi EO. Belakangan ini aku baru tahu kalo dia adalah teman TK ku. Aku kerumahnya, untuk membantu membereskan pernak-pernik semalam. Drupadi sudah mandi, kaos hijau lumut, celana selutut, makin manis dengan kacamata imut.
“Yang lainnya sudah aku beresin, tinggal Back Drop. Harus dibersihin dikit-dikit tempelannya.” Sambut dia dengan senyuman tanpa basa-basi.
Aku masuk ke ruang tamu, disitu sudah terhampar, Back Drop hitam yang menutupi kursi panjang.
“Waduh…lumayan lama nih.” Kataku.
“Kamu dari ujung situ, aku ujung satunya!” pandunya cuek.
Kami pun memulai mencabut-cabut tempelan huruf, bunga dan bintang yang ada di Backdrop. Sembari ngobrol, mengenang kisa-kisah lucu kami selama 3 tahun ini. Ada kejadian yang berkesan baginya, yang bagiku sepele. (inilah salah satu bentuk kebodohan lelaki). Aku pernah mengajaknya makan bakso dan es campur sepulang sekolah (saat itu kami masuk siang). Aku mengajaknya lantaran aku menang lomba Kaligrafi di sebuah Perumnas (padahal aku bukan warga situ), dan janji akan mentraktirnya. Proses traktiran sangat aneh. Aku bersepeda duluan dan menunggunya di pangkalan bemo. Dia datang, turun dari bemo, aku harusnya menemani, yang ada aku cuman nyamperin dan bilang,
“Aku tunggu di situ ya, biar aku pesenin dulu.”
Sesampainya di warung bakso, kami duduk saling membelakangi. Ngobrol pun tidak. Hanya menunggu, makan, say hello, dan pulang. (sampai saat ini aku masih mengutuki kebodohanku-itu kencan pertama dia).
Tanpa terasa waktu terus berjalan, dan backdrop semakin mendekatkan kami berdua. Aku tiba-tiba mengerti dia. Dan dia ternyata sudah sangat mengerti aku. Kemana saja aku selama ini? Sikap dan perhatiannya padaku, adiknya yang selalu iseng menggodaku. Bodoh. Pikiranku waktu itu mengawang-awang ke Cirebon. Sifat pujangga dan pemimpi Zenn, menutupi mataku. Fiuhh…
Saat duduk kami sudah bersebelahan, dan aku merasa ada keindahan di hubungan yang tidak jelas ini. Kami tidak perlu berkata-kata. Kami tidak perlu berebutan tempelan mana yang dicabut lebih dulu. Selaras, harmonis, yang serasa tidak akan lekang oleh waktu. Akhirnya kami hanya diam….mencari-cari tempelan backdrop yang sudah bersih, hanya agar alas an kami berdekatan bisa diterima.
“Weeeee…..ngapain kalian?” tiba-tiba ada suara dari pintu.
Murthi, sahabat Drupadi temen kelas sebelah datang, iseng mampir katanya. Seruan pelan darinya cukup buat kami gelagapan. Membuyarkan awal bersemi hubungan indah diantara aku dan Drupadi.
“Bubaaar…grak!!!!” kata Nopat didalam pikiranku.
Seperti kebanyakan remaja laki-laki, mereka tidak tahu persis apa yang mereka dapatkan dan apa yang mereka inginkan. Naik kelas 3 SMP, dan menjadi wakil peserta Jambore, aku terpesona oleh kecantikan pramuka putri dari propinsi Jawa Barat, kontingen Kota Cirebon, . Cantik, putih, rambut dibawah telinga, mata bulat, bibir seksi, pintar, jagoan semaphore dan tali temali. Berkoresponden dengannya selama semester pertama di kelas 3, cukup mengubah perilaku burukku di sekolah. Aku jadi lebih menghargai dan menghormati temen perempuan, suka menolong mereka tanpa imbalan apapun, rajin belajar hingga aku bisa masuk 5 besar pada semester ganjil dan ranking 3 pada semester akhir(semester genap kelas 2 aku rangking 29 weheheheh….) Hebat benar kekuatan cinta. Apa benar itu kekuatan cinta? Menurutku hanya kilauan semu yang akan bertepuk sebelah tangan.
Sampai saat perpisahan pun tiba. Aku jadi panitia perpisahan kelas. Mereka ingin gambar-gambarku dan warna-warniku menghiasi suasana pesta. Yang dengan bodohnya aku jadi terlalu mendominasi (pasti ulah Nopat). Aku mual dengan semua tindak tandukku yang sama sekali bukan aku. Nopat, selalu sok iye dalam segala situasi. Shit…!!!
Minggu pagi, setelah malam perpisahan. Aku ke rumah, hmmm… sebut saja namanya Drupadi. Cewek manis, pipi gembul, berkacamata dan selalu riang gembira. Pokoknya cocok jadi EO. Belakangan ini aku baru tahu kalo dia adalah teman TK ku. Aku kerumahnya, untuk membantu membereskan pernak-pernik semalam. Drupadi sudah mandi, kaos hijau lumut, celana selutut, makin manis dengan kacamata imut.
“Yang lainnya sudah aku beresin, tinggal Back Drop. Harus dibersihin dikit-dikit tempelannya.” Sambut dia dengan senyuman tanpa basa-basi.
Aku masuk ke ruang tamu, disitu sudah terhampar, Back Drop hitam yang menutupi kursi panjang.
“Waduh…lumayan lama nih.” Kataku.
“Kamu dari ujung situ, aku ujung satunya!” pandunya cuek.
Kami pun memulai mencabut-cabut tempelan huruf, bunga dan bintang yang ada di Backdrop. Sembari ngobrol, mengenang kisa-kisah lucu kami selama 3 tahun ini. Ada kejadian yang berkesan baginya, yang bagiku sepele. (inilah salah satu bentuk kebodohan lelaki). Aku pernah mengajaknya makan bakso dan es campur sepulang sekolah (saat itu kami masuk siang). Aku mengajaknya lantaran aku menang lomba Kaligrafi di sebuah Perumnas (padahal aku bukan warga situ), dan janji akan mentraktirnya. Proses traktiran sangat aneh. Aku bersepeda duluan dan menunggunya di pangkalan bemo. Dia datang, turun dari bemo, aku harusnya menemani, yang ada aku cuman nyamperin dan bilang,
“Aku tunggu di situ ya, biar aku pesenin dulu.”
Sesampainya di warung bakso, kami duduk saling membelakangi. Ngobrol pun tidak. Hanya menunggu, makan, say hello, dan pulang. (sampai saat ini aku masih mengutuki kebodohanku-itu kencan pertama dia).
Tanpa terasa waktu terus berjalan, dan backdrop semakin mendekatkan kami berdua. Aku tiba-tiba mengerti dia. Dan dia ternyata sudah sangat mengerti aku. Kemana saja aku selama ini? Sikap dan perhatiannya padaku, adiknya yang selalu iseng menggodaku. Bodoh. Pikiranku waktu itu mengawang-awang ke Cirebon. Sifat pujangga dan pemimpi Zenn, menutupi mataku. Fiuhh…
Saat duduk kami sudah bersebelahan, dan aku merasa ada keindahan di hubungan yang tidak jelas ini. Kami tidak perlu berkata-kata. Kami tidak perlu berebutan tempelan mana yang dicabut lebih dulu. Selaras, harmonis, yang serasa tidak akan lekang oleh waktu. Akhirnya kami hanya diam….mencari-cari tempelan backdrop yang sudah bersih, hanya agar alas an kami berdekatan bisa diterima.
“Weeeee…..ngapain kalian?” tiba-tiba ada suara dari pintu.
Murthi, sahabat Drupadi temen kelas sebelah datang, iseng mampir katanya. Seruan pelan darinya cukup buat kami gelagapan. Membuyarkan awal bersemi hubungan indah diantara aku dan Drupadi.
“Bubaaar…grak!!!!” kata Nopat didalam pikiranku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar