Senin, 22 Desember 2008

Jebakan Tali Kenur


Di pulau kecil ini masjid bisa seribu lebih jumlahnya. Tapi jangan salah, maling dan rampok pun tak kalah banyak jumlahnya. Angka tingkat pencurian cukup tinggi. Terurutama menjelang hari besar. Petugas ronda dapat disirep hingga tidur. Anjing dapat diracun sampai mati. Cara yang dapat dipilih untuk pertahanan adalah dengan menyusun “sambutan” yang meriah bagi maling-maling sialan itu.

Ide ini awalnya dari kakak laki-lakiku. Dia kesal karena sepatu dan celana jeansnya muksa disambar maling saat pulang liburan kuliah. Dia ingin membuat maling-maling itu jera. Minimal mengurungkan niatnya mencuri. Karena dia harus kuliah lagi, ide itu akulah yang akan mewujudkannya.

Pertama-tama identifikasi TKP. Kemudian menetapkan scenario pencurian. Yang akhirnya menentukan titik-titik “kematian” sang maling. Diputuskan oleh Aku, Zenn dan Nopat maling itu akan melewati 3-4 titik jebakan. Semua jebakan berupa tali kenur yang dibentang melintasi halaman. Yang kemudian diikatkan ke sebuah benda yang mampu menimbulkan kebisingan di dalam rumah, bahkan kampung.

Malam hari, setelah semua anggota rumah mulai tidur, aku menjalankan rencanaku.
Jebakan 1, halaman depan, membentang dari ujung pagar, melintang halaman secara diagonal setinggi lutut menuju pohon bonsai di pojok rumah, membelok ke tengah, masuk ke bawah pintu, terikat dengan kaleng biscuit Khong Guan yang kuisi dengan kelereng, ku letakkan di atas lemari makan.
Jebakan 2, antara halaman depan dan tengah, terbentang tali yang akan menjadi pengecoh, ku pasang setinggi leher orang dewasa.
Jebakan 3, antara pagar samping dengan jemuran, kubentang tali jebakan setinggi lutut, ku kaitkan dengan gallon cat yang kuletakkan diatas kandang ayam.
Jebakan 4, melintang diagonal antara sudut pemisah halaman depan dengan belakang, dan diikkat dengan seng bahan membuat cetakan pondasi jembatan punya bapak, yang aku letakkan di atap rumah.

Dari sisi kanan dan belakang rumah, kemungkinannya kecil, karena maling harus menembus rumah tetangga, dan harus menginjak atap asbes rumahku yang dijamin jika diinjak yang melebihi berat kucing akan ambrol.

Malam pertama, tidak ada kejadian. Malam kedua, jebakan 1 membuahkan hasil.
“BRENGGGG!!!!!” jam 2 pagi.
Kaleng Khong Guan yang kuisi kelereng jatuh membangunkan seisi rumah. Hanya maling bego yang mau bertahan jika Bapakku sudah keluar dari rumah. Konon tetangga pernah memergoki Bapakku menghantam muka maling dengan batu bata, yang akhirnya tertangkap diujung jalan. Kekekekekkek…

Malam ketiga, Jebakan gallon cat mendapat hasil.
“GUMBRENGGGG!!!!…WOKKKK PETOOKKK…!!!!! PETOOOOKKKK!!!!”
Ayam-ayam menjadi ribut, membuat bapakku gusar dan memukul kentongan, dengan kode waspada. Dijamin, malam itu rumah kami aman.

Malam ke empat, tidak ada kejadian. Malam kelima, sepi. Malam keenam, seng yang ada di atap rumah meluncur ke depan pelataran dapur.
“GROMBYAAAAANNNNGG!!!!!!” seisi kampung pasti bangun. Ayam-ayam bangun. Anjing-anjing menggonggong.

Akhirnya maling itu tertangkap, dengan sedikit baku hantam dengan petugas ronda. Maling itu dipotong kupingnya dengan pisau dapur. Biar jera, kata bapak-bapak itu. Dari hasil keesokan harinya, saat aku membereskan jebakan, semua jebakan yang sebelumnya terputus. Tali kenur yang membentang telah dipotong oleh maling itu.
“Hmmm…orang yang sama.” Aku mengambil kesimpulan.


Sejak saat itu pencurian di kampungku jarang terdengar. Paling-paling pencurian sandal di masjid, atau mangga dan rambutan di halaman.

Sesekali aku memasang tali kenur ke pintu gerbang, sehingga pintu itu bisa aku buka dari kamarku. Hehehehhe… senang rasanya melihat Kepala Lingkungan, Tukang Bakso, Ibu-ibu rumpi cerewet, atau si anjas (anak laki-laki sok sebelah rumah) terbirit-birit kalo melihat pintu gerbang rumahku terbuka sendiri.

3 komentar:

  1. setelah saya baca,artikelnya sangat pas dan mudah dipahami,trim

    BalasHapus
  2. Masukkan komentar Anda...wach bgus jga tuh jebakan sprti msuk akl jga...akn sy cba..soalx didaerhku sllu kejdian keboboln rmh sma mling...mkch y solusix....

    BalasHapus