Minggu, 21 Desember 2008

Layla dan Majnun


Semua orang pasti mengenal kisah Layla dan Majnun. Kisah antara sepasang kekasih yang tidak dapat bersatu karena segala jurang perbedaan diantara mereka. Tak kuasa menahan hasrat cintanya yang menggelora, sang laki-laki mengembara dan selalu menyerukan nama Layla, sampai dia dijuluki Majnun.

Kalo Majnun-nya aku, itu lain cerita. Saat SMP kelas 2, aku punya teman perempuan. Sebut saja Layla. Anaknya mungil, hitam manis, rambut keriting, bibir penuh tapi kecil, mata indah dengan kacamata. Pada intinya ankanya sangat menarik (bagi yang paham soal wanita). Si Nopat, kembar siam keparatku, berkomentar:
“Mho, coba lihat si Layla. Dan bayangkan saat dia dewasa. Cantik kan?” hasutnya.
Dengan bodoh ku imajinasikan dirinya dengan template dewasa. Ternyata benar. Layla memang mempesona. (cara berimajinasi ini masih efektif, dengan menetapkan template-templete beberapa kondisi, kami bisa memperkirakan apa yang akan terjadi pada diri seseorang hehehheheh…)

Suatu malam, diadakan inagurasi seni di Balai Budaya kota kecil kami. Aku dan teman-teman sekolah datang untuk membuat tugas kesenian tentang kegiatan seni di kota kami, Aku bertemu Layla, dan kami duduk bersebelahan. Panggung sedang mementaskan kisah roman dua anak manusia. Aku lupa persisnya apa. Karena perhatianku mengarah ke Layla yang diam saja, menjawab apa yang aku tanyakan dengan singkat dan cepat.
“Dia grogi berada disebelah cowok. Kujamin, dia terbawa suasana pentas, dan butuh sikap romantis dari laki-laki.” Tiba-tiba Nopat masuk ke pikiranku, mengambil alih tubuhku, dan aku hanya bisa diam tidak berdaya.
Kulihat dia menggenggam tangan Layla, sambil menatap, dan kudengar dia berbisik…
“Kamu tambah manis kalo ngga pake seragam…”
"GUBRAKKK…!!!! Nopat Jahanam!!!!” Seruku tanpa bersuara.
Layla hanya tersipu dan mencoba mempertahankan pandangannya ke panggung. Aku tahu, dia senang dengan sikap lembut tadi.
“Cup…” Nopat mengecup rambut Layla.
Dan
“Cup” lagi… sekarang mendarat di pipi kanan nya. Tiba-tiba aku sudah pulih dari kesadaran dan melihat Layla menatapku dan menunduk dengan malu-malu.

Singkat, padat, berisi, seperti doa sebelum makan, aksi Nopat langsung memberikan tuah. Tiba-tiba, aku ditarik seseorang keluar gedung, dan di parkiran sepeda dan dihajar diperut, 2 kali. Aku melintir.
“Jangan macam-macam sama Layla!!!” bisik dia geram sambil merenggut kaosku. Dia kembali ke gedung. Kemudian keluar lagi bersama Layla, mengambil motor RX-King nya, menggonceng Layla dan mengencangkan suara gas motornya didekatku. Layla cuma diam saja. Senyum pun tidak. Maaak…ternyata dia abangnya Layla yang sudah SMA itu. Dia duduk dibelakang kami, dan melihat aku, eh, Nopat mengecup adiknya. Ya wajarlah kalo dia murka dan menghajarku. Kakak mana yang bisa terima adiknya diperlakukan begitu di depan matanya? Aku sudah pasti di Black List oleh keluarganya.

Sekedar informasi, aku mengulangi kesalahan ini saat kelas 1 SMA. Aku melakukan Kiss Bye ke Layla, yang disambut Kiss Bye balik olehnya plus hantaman di perut, 2 kali dari abangnya.


3 komentar:

  1. kepribadian yang mengagumkan....
    semoga Allah mangampuni dosa2 mu yg suka berimaginasi...
    btw kayaknya bagus juga kalo dibuat novelnya...
    buat ceritanya lebih mandalam, misalnya kegilaan "Aku" pd si Layla membuatnya menjemput maut karena dihajar massa.. hehehe..

    BalasHapus
  2. heyy nopat itu kayak pribadi lain mu yahh?

    BalasHapus
  3. iya tuh, kalo lagi stress kadang2 suka nongol, ngajakin yang nggak2

    BalasHapus