Selasa, 23 Desember 2008

T4hi Ayam


Masa kecil adalah masa yang paling menakjubkan. Sifat dasar manusia adalah selalu ingin tahu akan hal-hal yang baru, dan diberikan kemampuan otak untuk mengembangkan hipotesisnya, walau masih anak-anak sekalipun.

Sebagai anak-anak, rasa ingin tahuku lebih sering dinilai sebagai rasa ingin tahu yang tidak wajar, nyeleneh, melanggar pakem dsb..dsb. Rumahku, sempat dihuni oleh beberapa puluh ekor ayam kampung dari segala takaran. Dari piyik-piyik yang mendapat pelayanan VIP dengan lampu penghangat dan suplemen, hingga Jago atau Babon yang menunggu dimakamkan. (Kalo disembelih dagingnya luar biasa liat). Bagiku, tahi ayam adalah hal yang menarik. Bentuk, aroma dan warnanya bagiku sungguh lucu. Paling bau adalah yang berwarna coklat, yang menduduki peringkat ke 3, tahi binatang terbau. Pernahkah kamu merasakan sensasi meremas tahi ayam dengan tanganmu sendiri? Hehehheh aku pernah melakukannya.

Yang aku butuhkan adalah pelapis tangan yang cukup tipis. Aku tidak mungkin meminta pada ibuku sebuah sarung tangan karet (untuk operasi di rumah sakit) hanya untuk meremas tahi ayam. Akhirnya aku memilih menggunakan plastik bekas pembungkus gula. Cukup tipis dan lembut.

Kupilih tahi si Denok, babon tertua dan terbesar, dengan dimensi tahi yang paling besar pula tentunya, mengingat dia sudah menelurkan ribuan telur-telur bergizi yang menunjang pertumbuhan otakku dan kakak-kakakku. Gumpalan tahi itu berwarna hijau kehitaman dengan semburat putih dibeberapa titik. Hampir sebesar bola tennis. Ada dua tahi. Masih segar dan hasil produksi pagi hari sepertinya. Kuambil dan kuremas…hangat dan lembut… Kuambil yang satunya lagi, dingin dan lembut.
“Wow….” komentarku senang….

2 komentar: